Komunikasi Politik

14 – 20 september 2015

the geo TIMES Magazine

Screen-Shot-2015-09-13-at-1.19.32-AM-400x531

Reformasi Harus Terjadi di Partai Politik
Tanpa perubahan mendasar, partai politik bisa ambruk.

 

 Gisela Niken, Luthfi Anshori, Nuran Wibisono

Mei 2014. Hatta Rajasa sedang menemui para wartawan di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional. Ketua Umum PAN ini memberikan keterangan sikap politik partai yang dipimpinnya. “Kami beraklamasi untuk mendukung pencapresan Prabowo,” ujarnya.

Menurut Hatta yang kemudian menjadi calon wakil presiden pendamping Prabowo dalam Pemilihan Presiden 2014, PAN dan Partai Gerakan Indonesia Raya yang dipimpin Prabowo Subianto memiliki kesamaan visi dan misi, yaitu membangun bangsa yang maju. Bersama Partai Keadilan Sejahtera, Golkar, PPP, dan PKS, PAN dan Gerindra membangun Koalisi Merah Putih. Di DPR, koalisi itu menjadi mayoritas dengan mendapat 292 kursi. Sedangkan kursi koalisi pemerintah hanya 207. Partai Demokrat yang bersikeras untuk netral memiliki 61 kursi. September 2015. PAN yang kini dipimpin Zulkifli Hasan memutuskan untuk pindah perahu: bergabung dengan gerbong pemerintah. “Kami memutuskan untuk bergabung dengan pemerintah untuk menyukseskan seluruh program pemerintah,” kata Zulkifli dalam konfrensi pers di Istana Merdeka.

Menurut Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini, PAN ingin berkontribusi bersama pemerintah untuk membantu mengatasi masalah perekonomian. Kepindahan ini telah dikonsultasikan dengan Majelis Pertimbangan Partai dan semua jajaran internal partai. Sebelumnya, Golkar versi Agung Laksono memutuskan untuk keluar dari Koalisi Merah Putih. Ini membuat kekuatan legislatif koalisi oposisi menjadi jauh lebih lemah. Perpindahan koalisi yang begitu mudah terjadi ini ibarat mengabaikan semua ideologi. Kesamaan visi dan misi yang diungkapkan saat membentuk koalisi, menjadi omong kosong yang tak bisa dipercaya.

Sistem kepartaian di Indonesia memiliki banyak sekali kelemahan. Salah satunya tak banyak partai “kuat” yang menjadi oposisi. Bisa dibilang ini adalah hasil dari kuatnya Golkar dalam pemerintahan Orde Baru. Partai oposisi dianggap tak perlu dan menjadi pihak yang lemah. Hanya sedikit sekali partai yang betah menjadi “lawan” pemerintah. Salah satunya PDI Perjuangan yang teguh menjadi oposisi selama 10 tahun. Kecenderungan partai yang mengabaikan ideologi untuk mendekat dengan kekuasaan ini terjadi dalam kasus PAN. “PAN tidak bisa lepas dari budaya paternalistik.

Mereka punya pemikiran bahwa yang memiliki kekuasaan adalah yang unggul dan patut dijadikan rujukan,” kata Eko Harry Susanto, pakar komunikasi politik Universitas Tarumanegara, melalui surat elektronik. Perpindahan PAN ke kubu pemerintah dianggap sebagai kepentingan praktis semata. Cenderung transaksional. Hal ini diperparah dengan buruknya sistem kaderisasi partai. Saat ini nyaris semua partai membuka pintu kader lebar-lebar. Semua orang bisa masuk, tanpa perlu mendalami ideologi dan berkiprah di sebuah partai.

Ketika kader itumenjadi pucuk pimpinan partai, ideologi akan jadi barang rongsokan. Partai akhirnya hanya menjadi alat politik praktis. Hanya berfungsi untuk mencari kekuasaan dan kekayaan. “Jaringan hubungan elite partai dan massa partai amat rentan, karena kedua belah pihak cenderung fokus tujuan praktis semata,” kata Eko. Menurut dia, baik elite partai maupun kader dan massa partai sama-sama punya kepentingan. Ini kerap terjadi pada partai yang lemah dalam hal kaderisasi. “Elite partai ingin memperoleh posisidalam kekuasaan negara, atau setidaknya memiliki kesempatan untuk ikut mengelola sumber potensial negara untuk keberlanjutan partai politik. Sementara massa dan kader hanya sebatas partisipasi fisik dalam pemilu,” kata Eko.

Kaderisasi yang lemah ini juga diakui Indra Jaya Piliang, politikus Partai Golkar. Ia membandingkan kader partai di masa lalu yang berani memperjuangkan ideologi hingga rela masuk penjara. Tapi kader seperti itu sudah tak ada lagi pada masa sekarang. “Perekrutan yang terlalu terbuka membuat kader-kader partai tidah tahu ideologi partai, sehingga pada saat sudah berpolitik, justru tidak membawa misi partai. Bahkan banyak yang mengingkari ideologi partai sendiri,” ujarnya. Kaderisasi bukan satu-satunya masalah kepartaian di Indonesia. Masalah besar lainnya adalah kuatnya patronase senior ataupun menjual sosok ketimbang visi misi.

Patronase senior bisa dilihat di PDI Perjuangan. Sejak didirikan pada 1999, Megawati Soekarnoputri selalu menjadi ketua umum. Meski pencapaian partai selalu menurun, bahkan Megawati kalah dalam pemilihan presiden dua kali, ia tak bisa didongkel dari kursi empuknya. Pencapaian PDI Perjuangan baru dikatakan berhasil saat partai berlambang banteng bermoncong putih itu mengusung Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2014. Namun karena citra dan pengaruh Megawati yang terlalu kuat di PDI Perjuangan, Jokowi dianggap sebagai presiden bonekaMegawati. “Sistem kepartaian di Indonesia masih merujuk pada aspek konvensional yang mengunggulkan senioritas,” kata Eko. Para senior di partai ini menyulitkan reformasi di tubuh partai. Mereka juga bisa mengontrol dan juga mendikte siapa kader yang mendapat jabatan apa. Karena itu pula, banyak kader muda yang memilih untuk menjilat senior ketimbang mengembangkan diri dan memiliki prestasi di partai. Sekarang juga banyak partai yang tak punya visi misi kuat dan hanya mengandalkan sosok personal. Biasanya ini terjadi pada partai baru. Partai Demokrat, Perindo, dan Nasdem adalah beberapa contoh partai yang baru dibentuk dan mengandalkan figur personal.

Partai Demokrat dibentuk pada 2001 oleh Susilo Bambang Yudhoyono yang kala itu masih menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Partai ini dibentuk sebagai kendaraan agar SBY bisa maju dalam pemilihan presiden. Sebagai pendiri dan juga presiden selama dua periode, tak mengherankan jika sosok SBY lekat dengan partai ini. Pada Kongres IV, ia terpilih kembali menjadi ketua umum partai untuk periode kedua.

Sedangkan Partai Perindo baru berdiri pada Februari 2015. Partai ini mengandalkan sosok Hary Tanoesoedibjo yang pernah menjadi pasangan Wiranto sebagai calon wakil presiden. Partai Nasdem berdiri pada Juli 2011 dan mengandalkan Surya Paloh yang selama ini dikenal sebagai taipan media. Ia sempat secara tersirat ingin menjadi calon presiden jika partai yang dipimpinnya masuk tiga besar. Karena gagal, ia pun memberikan dukungan pada Jokowi. Jika partai baru tak kuat secara ideologis, bisa dipastikan tak ada pula kader yang terikat secara ideologis.

Perlu banyak pembenahan partai politik di Indonesia. “Pertama-tama, pembenahan harus dilakukan dari internal partai,” kata ” Indra Piliang. “Harus ada pendidikan partai, yang tidak hanya diberikan kepada kader. Tetapi kepada masyarakat luas. Kunci demokrasi kan partisipasi rakyat.” Selain itu, partai politik juga harus mulai dikelola secara modern. Ini artinya segala hal terkait partai harus terbuka. Mulai dari perekrutan kader hingga sumber pendanaan partai.

Semua harus jelas dan transparan. Partai politik juga harus lebih kuat mengusung ideologi. Tak melulu mengandalkan sosok personal. Senioritas dan penokohan harus pelan-pelan diubah dan dihilangkan. Saatnya kader muda berprestasi dan kuat secara ideologi yang diberi giliran memimpin partai. Tanpa perubahan mendasar mengenai penguatan ideologi dan juga keterbukaan, partai politik di Indonesia akan semakin rapuh. Bukan tidak mungkin ambruk. Hal ini banyak terjadi pada partai-partai baru yang dibentuk pasca-reformasi. Ketiadaan ideologi dan juga pengelolaan yang tidak modern, membuat partai-partai itu bubar jalan (*)

02-26-TIMES-2015-compatible

P.30-31

 

Explore posts in the same categories: Komunikasi, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: