Komunikasi Politik Istana

http://nasional.harianterbit.com/nasional/2015/05/29/30264//25/Matahari-Kembar-Jokowi-JK-Harus-Sering-Tampil-di-Depan-Publik

Matahari Kembar: Jokowi-JK Harus Sering Tampil di Depan Publik

JOKOWI-JK

Jakarta, HanTer – Kalangan pakar komunikasi politik menilai bukan pertama kali terdapat “matahari kembar” di istana kepresidenan antara Presiden dan Wakil Presiden. Analisa itu muncul karena JK kerap kali berbeda pendapat dengan Presiden Joko Widodo.

Untuk itu, Jokowi dan JK diminta segera memperbaiki komunikasinya dengan cara sering tampil dihadapan publik secara bersamaan.

“Keduanya harus sering muncul dihadapan publik dan tidak melontarkan pendapat yang terbelah,” kata Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio kepada Harian Terbit, Kamis (28/5/2015).

Tidak klopnya Jokowi-JK tentunya mencitrakan kembali terdapat “matahari kembar” di istana. “Yang paling dahsyat adalah soal sepak bola. Perlu di ingat ungkapan yang sangat terkenal, nasionalisme tumbuh saat perang dan sepak bola,” ungkapnya.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto menambahkan, Jokowi dan Jk memang harus lebih mengkoordinasikan pernyataan publiknya. Sebab, katanya, perbedaan pendapat diantara mereka akan dianggap perpecahan. Terlebih apabila intensitasnya semakin sering.

“Tapi saya melihat saat ini masih bisa diperbaiki. JK harus mengerem pernyataannya. Sememtara Jokowi harusnya lebih strategik dalam menyampaikan pesan publiknya,” kata Gun Gun.

Maka dari itu, Gun Gun meminta, Jokowi harus lebih mengambil peran sebagai the real president. Sebab, sebutnya, jangan sampai justru publik melihat JK lebih cekatan merespons isu-isu publik yang mendapat perhatian publik seperti dalam isu reshuffle atau kasus PSSI. “Secara politik tak sehat jika presiden dan wapres tidak solid,” katanya.

Sementara itu, Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Tarumanegara (Untar), Eko Harry Susanto mengatakan, memang dalam komunikasi publik yang bisa dicermati masyarakat ada perbedaan dalam mengungkapkan pendapat. Namun, sebutnya, sebenarnya tidak frontal bertolak belakang yakni JK bisa mengidentifikasikan diri ‘jika saya’ tetapi umumya ditutup pula dengan semua tergantung Presiden.

“Artinya eksekusi tetap diserahkan ke Jokowi. Walaupun bisa saja orang sekeliling JK tidak sepakat, tetapi justru ini strategi komunikasi JK berupaya memberikan kepuasan ke kelompoknya dan kawan politiknya yang belakangan kurang sejalan dengan Jokowi namun juga tetap mendukung Jokowi,” kata Eko.

Dia melanjutkan, dengan mengungkapkan dua pendapat berbeda, JK tidak kehilangan dukungan dari kelompoknya dan Jokowi pun tetap menghargai karena hak untuk memutuskan didukung JK. “Jadi jangan buru-buru bilang tidak cocok. Justru pada konteks ini komunikasi politik JK benar-benar unggul

Selain itu, sambungnya, secara esensial sesungguhnya perbedaan bisa saja semata mata-mata menyangkut penetapan institusi dalam mengelola negara, personil untuk menduduki jabatan.

“Ini wajar. Sebab tujuan utama tetap dalam koridor program Jokowi. Jadi tetap masih memiliki sinergi. Namun tidak bisa diabaikan banyak yang berprasngka buruk dalam konteks suksesi. Saya kira ini tidak sejauh itu,” ujarnya.

(Robbi Khadafi)

Explore posts in the same categories: Komunikasi, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: