Komunikasi Partai Politik

http://www.harianterbit.com/hanterpolitik/read/2015/05/24/29648/41/41/PakarIslah-Sementara-Golkar-Merupakan-Jalan-Terbaik

Pakar:Islah Sementara Golkar Merupakan Jalan Terbaik

0000000000

Jakarta, HanTer-Pakar Komunikasi Politik Universitas Tarumanegara (Untar) Jakarta, Eko Harry Susanto menilai islah sementara Partai Golkar (PG) merupakan jalan terbaik agar dapat ikut Pilkada serentak 2015.

Dikatakannya, dalam sejarah PG seharusnya tidak ada konflik berkepanjangan meskipun ada perbedaan pendapat. “Tanpa islah dulu, justru terancam gagal dalam pilkada serentak. Setelah urusan pilkada baru diadakan penyelesaian tuntas, bukan sebatas dari aspek hukum saja siapa yang menang, tetapi harus melalui pemilihan Ketum terbuka,” kata Eko kepada Harian Terbit, Minggu (24/5/2015).

Dengan cara itu, lanjut Eko, kontestasi internal secara langsung bahwa siapa yang sesungguhnya berhak dan diinginkan anggota menjadi ketua umum. “PG terbiasa mempunyai tujuan praktis dan taktis dalam pemerintahan dan kekuasaan negara. Ketidakikutsertaan dalam Pilkada bisa menggeogoti suara PG dalam politik nasional bisa lemah,” katanya.

“Karena organ kekuatan di daearah akan limbung tanpa kepala daerah dari Golkar. Padahal selama ini, Golkar ahlinya mengelola politik dalam tubuh pemerintahan di daerah,” tambahnya.

Eko menambahkan, tidak dapat disangkal bahwa kepala daerah adalah sumber kekuatan politik yang punya kontribusi besar mendulang suara dalam pemilu. Dengan demikian, PG mutlak harus ikut pilkada.

“Kondisi saat ini, jika ARB jadi ketua berdasarkan PTTUN, tentu akan mendapat hambatan dari kubu AL. “Islah jadi jalan dibentuknya kepemimpinan kolektif untuk bisa berbagi kekuasaan. Kalau AL juga memaksakan tidak mengakui ARB juga susah, karena kubu ARB tentu merasa yang berhak,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, jalan lain tentu islah dengan menunjuk salah satu senior yang dituakan. Senior itulah yang menyetujui calon kepala daerah dari Golkar, dan disetujui juga oleh ARB dan AL. “Harus bisa islah, dengan peran senior yang berpengaruh di dua kubu. Bisa JK atau Akbar Tanjung,” katanya.

Eko mengakui, dalam konteks komunikasi politik memang sulit untuk menyelesaikan konflik dari dua kekuatan, yang keduanya merasa menang dan menang dalam solusinya. Namun, daripada hilang kekuatan PG di daerah, lebih baik kedua kubu legowo demi parpol. “Sulit tapi akan terjadi dalam menghadapi Pilkada. Persoalannya kalaupun islah, belum tentu mesim politik di daerah bisa bekerja maksimal karena dua kepentingan berbeda,” katanya.

Kemungkinan terakhir jika islah tidak terjadi, katanya, maka kader di daerah sementara bisa maju Pilkada lewat jalur independen dengan mengandalkan kekuatan politik lokal atau sementara ikut partai lain yang bisa diajak bekerjasama.

(Robbi Khadafi)

Explore posts in the same categories: Komunikasi, Politik, Uncategorized

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: