Komunikasi Politik Koalisi

http://www.indopos.co.id/2014/05/pengamat-nilai-koalisi-ramping-lebih-efektif-di-pemerintahan.html

 

Pengamat Nilai Koalisi Ramping Lebih Efektif di Pemerintahan

 a41-216x125

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Tarumanegara, Dr. Eko Harry Susanto

Jakarta-Peta koalisi jelang pemilu presiden (Pilpres) sepertinya sudah hanya milik dari PDIP dengan capresnya Joko Widodo atau Jokowi dan Partai Gerindra dengan Prabowo sebagai calon RI 1-nya. Pasalnya kedua partai inilah yang saat ini sudah memberi gambaran soal rencana bangunan koalisinya, yakni yang ramping versus koalisi gemuk.

Bagi pengamat komunikasi politik Universitas Tarumanegara Eko Harry Susanto, dari dua gagasan itu, nampaknya bangunan koalisi ramping yang ditawarkan oleh PDIP adalah yang paling menguntungkan bagi jalannya pemerintahan ke depan.

“Dalam teori negosiasi komunikasi politik, koalisi adalah secukupnya. Jadi koalisi gemuk akan menyulitkan teamwork, khususnya di pemerintahan,” kata Eko, kepada Indopos, Jakarta, Jumat (2/5).

Apalagi, menurut Eko,  kalau koalisi dibentuk secara instan, dijamin tidak akan menghasilkan komunikasi yang integratif dan kerja kompak.
Eko pun menjelaskan bahwa menjadi persoalan utama adalah koalisi seringkali ditempatkan dalam kesederajatan.

Akibatnya tidak ada yang merasa lebih rendah. Semua merasa sapadan dan egaliter. Ini persoalan serius, seperti halnya di pemerintah SBY dengan Kabinet Indnesia Bersatu (KIB) nya.

Lalu, bagaimana SBY juga sering tahu peristiwa politik justru dari media dan bukan dari teman koalisinya. “Artinya perseteruan di internal koalisi bernama Setgab justru tak mampu diredam dan selalu muncul secara tiba-tiba di media massa,” terangnya.

Ia pun mengakui bahwa dalam dinamika politik model Indonesia Ada kecenderungan koalisi harus sebanyak-banyaknya. Karena khawatir di parlemen (DPR RI)  tidak memiliki kekuatan.

“Padahal dari sisi aspek teoritis, model koalisi besar tidak bener. Karena sesungguhnya jika melihat budaya politik paternalistik, umumnya yang punya kuasa tetap menjadi rujukan. Sebab semua akan berlomba merapat kepada istana atau kekuasaan,” jelasnya.

Selain itu, dengan koalisi tambun yang memiliki kekuatan besar untuk unggul di senayan, kata Eko dinilai  tidak lincah. Karena untuk menyatukan kelompok berbeda diperlukan kecepatan koordinasi. Dan pengalaman menunjukkan koalisi tambun memang tidak kompak. Masing-masing bersuara sendiri.

Lalu, dalam ilmu  komunikasi orgnisasi, untuk  menyatukan kelompok yang berbeda diperlukan separuh waktu dari waktu berkuasa yang tersedia. Artinya mereka akan kompak setelah dua setengah tahun.

“Persoalannya dalam politik Indonesia, tahun ketiga, masing-masing parpol sudah mulai kampanye terselubung kerja untuk partai.
Jadi hampir tidak ada kesempatan koalisi untuk seia sekata dalam memerintah bersama,” tandasnya menjabarkan arti dari koalisi. (dil)

http://m.wartabuana.com/read/pengerahan-babinsa-bikin-rakyat-khawatir.html

 

Explore posts in the same categories: Budaya, Komunikasi, Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: