KOMUNIKASI POLITIKUS MUDA

 

Politikus  Muda dan Pemilu 2014

 

Oleh Eko Harry Susanto

suara-karya

Rabu, 12 Maret 2014

 

Berbagai perilaku politisi muda yang terjerat kasus korupsi dan tindakan tidak berpihak kepada   rakyat,  menunjukkan bahwa orang – orang terdidik berusia muda  dalam politik praktis,  tidak sepenuhnya  dapat diandalkan sebagai  calon pemimpin masa depan.

 

Kendati demikian, dalam menghadapi Pemilihan Umum 2014, partai – partai politik tetap optimis, mengunggulkan politisi muda sebagai calon anggota legislatif untuk menarik konstituen. Dengan kata lain, adanya sejumlah politisi muda yang terjerat  masalah korupsi dan tindakan mmerugikan rakyat,  tidak menyurutkan  niat parpol untuk menampilkan politisi muda.

 

Tentu saja  sikap parpol semacam itu amat wajar, sebab terlepas dari faktor negatif  yang melekat, sesungguhnya  politisi muda memiliki energi dan  semangat yang dapat diandalkan untuk bekerja keras  mencapai tujuan partai politik.  Namun jika menyimak pendapat dari sudut yang pesimistis terhadap  politisi muda,  bukan mustahil jika keraguan terhadap politisi muda justru menguat.

 

Menurut  Koentjaraningrat (2008), bahwa pemuda menyukai budaya menerabas ataupun jalan pintas dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam konteks ini, politisi muda yang berkiprah di parpol, bisa saja memang lebih menyukai jalan menerabas alias instan untuk menjadi politisi. Mereka  malas untuk meniti karir   dari bawah, tetapi  langsung masuk dalam lingkaran elite partai dan  menjadi calon anggota legislatif.

 

Aspek Historis

 

Berpijak kepada fakta  historis,  dan tanpa menafikan adanya  tokoh – tokoh muda pejuang kemerdekaan,   dalam perjalanan  bangsa Indonesia, orang – orang berusia muda  terdidik, yang   belajar di Belanda,  dan negara Eropa lain,     kurang  memiliki kemandirian karena didominasi oleh pencari kerja  (job hunters). Mereka  menjual tenaga dan keahlian kepada  pemerintahan kolonial,  demi memperoleh  keuntungan (Sartono Kartodirdjo, 1999). Sebagai pekerja  yang mengabdi   kepada pemerintahan jajahan,   orang muda  terdidik  sulit sepenuhnya membela kepentingan bangsa  Indonesia.

 

Bahkan mereka  semakin lemah  secara politis, karena  menjadi kesayangan penjajah untuk  diperalat mencapai tujuan.Akibatnya,   generasi muda terdidik, yang juga representasi kelas menengah,   sulit  menunjukkan kepemimpinan politik   dihadapan rakyat.  Justru yang  muncul   adalah, perilaku    melembagakan  birokrasi feodalisme,  dan nilai – nilai paternalistik  yang minta penghormatan  ataupun dilayani secara berlebihan dari  bangsa sendiri.

 

Model pelemahan  politik  anak muda terdidik   oleh pemerintahan kolonial ternyata  masih terus berlanjut  sampai sekarang, walaupun dalam  versi berbeda. Sejumlah  aktivis muda berpendidikan tinggi,  yang   perkasa  dalam reformasi politik tahun 1998 cenderung  memburu  pekerjaan politik praktis secara instan, yang melupakan posisinya  sebagai kekuatan moral demokratisasi bernegara.

 

Politisi muda  terperangkap dalam belenggu kelompok kelas menengah tidak mandiri  akibat sistem  ekonomi  dan politik paternalistik  yang sangat kuat. Celakanya  kelas menengah rapuh  sudah lazim  kalau lebih  menyukai patron  politik  yang mampu memberikan  “gizi” memadai  daripada berpihak kepada rakyat.

 

Mengutip pendapat Arief Budiman  (dalam Yosihara Kunio,1990),  “bahwa kelas menengah  yang  kuat dan mandiri,  harus dibentuk oleh peran burjuasi  “tulen”  ataupun pemilik modal yang bebas dari pengaruh kekuasaan”. Ini yang menjadi pangkal persoalan, mengingat teramat  langka pelaku bisnis  bermodal besar bisa melepaskan ketergantungan darikekuasaan negara dan instusi politik dominan. Secara sederhana dihubungkan dengan keberadaan politisi muda terdidik,   sebagai kelas menengah yang tidak mandiri, dapat dikatakan bahwa  sulit mengharapkan calon anggota legislatif berusia muda yang bersungguh – sungguh memperjuangkan nasib

 

Oleh sebab itu, tanpa  bermaksud  menyamaratakan semua politisi muda adalah kelas menengah tidak mandiri  pengguna jalan instan,   tetapi ada kecenderungan yang sulit dihilangkan, bahwa  para  aktivis muda  rajin melakukan  lobi – lobi  intensif  dengan para petinggi parpol. Di pihak lain,   parpol juga menyenangi jalan pintas untuk  memoles citra,  dengan membuka pintu lebar – lebar untuk  menerima   aktivis muda. Sebab mereka – para aktivis muda,  dikenal  bersuara nyaring  dalam  mengkritisi berbagai kebijakan – kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.

 

Namun  ternyata  orang muda terdidik yang tampak hebat sebagai aktivis kampus,  maupun organisasi kemasyarakatan itu,  seperti tidak berbekas ketika  tampil sebagai politisi. Mereka justru menjadi   epigon setia politisi senior penguasa parpol yang cenderung “bekerja untuk partai, bukan untuk rakyat”.

 

Memang dalam perspektif perilaku politik yang ideal,  menurut Rush dan Althoff (1997),  kaderisasi partai politik seharusnya  berjalan secara terstruktur dan professional. Politisi muda   meniti  karier politik dimulai dari bawah sebagai  anggota biasa,   atau giat dalam tingkatan perhelatan  partai politik  yang paling rendah. Jadi  bukan  melalui jalan pintas atau tindakan menerabas. Proses ini penting , agar politisi muda, memahami esensi jabatan politik  berkaitan dengan ketekunan, kerja keras dan keberpihakan kepada rakyat.

 

Secara substantif, mencermati  perilaku menerabas  aktivis muda dalam politik praktis,  menjadi pertanyaan disini, apakah   partai – partai politik  yang   mengunggulkan  politisi muda “instan”  bisa  menuai hasil yang diharapkan pada Pemilu 2014.  Sebab rakyat sebagai pemilih aktif, tampaknya  tidak mudah  untuk melupakan reputasi orang – orang berusia muda di kursi legislatif,    yang belum mampu  memposisikan diri  sebagai pemimpin masa depan harapan bangsa***

 

 

Penulis adalah Dekan  Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara Jakarta.

Explore posts in the same categories: Budaya, Komunikasi, Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: