Komunikasi Politik Pendidikan Indonesia

Plagiarisme dan Kemalasan Pembimbing
Oleh Eko Harry Susanto

suara-karya

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=338823

Suara Karya, Sabtu, 26 Oktober 2013

Memang, tidak bisa dinafikan, munculnya kasus plagiarisme tidak pandang bulu. Bukan hanya di perguruan tinggi tidak ternama, tetapi bisa saja di institusi pendidikan tinggi prestisius yang dikenal sangat ketat menyeleksi mahasiswa baru untuk program S1, S2 dan S3. Terjadinya tindakan mencontek naskah akademik milik orang lain untuk kepentingan sendiri lazimnya dipicu oleh jalan pintas mahasiswa, yang ingin cepat lulus tanpa berpikir panjang dan kritis pentingnya karya sendiri.

Namun, tanpa mengesampingkan bahwa plagiarisme merupakan pelanggaran akademis, sesungguhnya peran dosen pembimbing skripsi dan tesis maupun promotor dalam penulisan disertasi untuk program doktor ikut memberikan andil terhadap munculnya karya ilmiah dalam kategori plagiat.

Menyusun suatu naskah akademis ataupun karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana, magister maupun doktor, harus melalui proses bimbingan dalam komunikasi yang integratif antara mahasiswa dan dosen pembimbing. Dari penetapan topik yang dapat diangkat untuk judul naskah akademik, rencana penelitian sampai penyelesaiannya, memerlukan diskusi intensif terhadap substansi karya ilmiah, antara pembimbing dan mahasiswa. Dalam penelitian ilmiah untuk mendukung penyelesaian tugas akhir yang dilakukan oleh para calon sarjana sampai calon doktor, lazim digunakan metodologi yang menitikberatkan pada pendekatan kuantitatif, dengan analisa statistik dimana fakta sosial yang diperoleh di lapangan dinilai dengan angka. Selain itu ada pendekatan kualitatif, yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dan menghasilkan data deskriptif untuk menggambarkan suatu realitas sosial yang komprehensif. (Bogdan dan Taylor, 1992) Tentu saja tidak menutup kemungkinan menggunakan metodologi yang menggabungkan antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif sebagai pendukung penelitian yang dilakukan.

Namun, metode apa pun dalam penelitian, terlebih lagi pada pendekatan kualitatif tidak dapat melepaskan diri dari fenomenologi atau fakta sosial tentang kejadian-kejadian nyata dalam lapangan penelitian. Proses pengungkapan kembali realitas sosial, akan bergantung kepada kemampuan individual memahami konsep, teori dan paradigma suatu disiplinilmu. Pengalaman di lapangan, alat penunjang yang digunakan, dan aplikasi dari strategi pengumpulan data, seperti observasi partisipatif yang sangat dikenal dalam penelitian sosial merupakan aspek pendukung sebuah naskah akademik murni karya sendiri.ehs-03a

Pada konteks ini, dosen pembimbing ataupun promotor, yang memiliki keahlian sesuai dengan topik penelitian, bisa melakukan penggalian informasi terhadap jalannya penelitian hingga memperoleh hasil seperti yang dilaporkan mahasiswa. Tentu saja pembimbing wajib membaca naskah akademis sebagai perwujudan tanggungjawab yang melekat. Bukan hanya membaca sepintas dan mengkoreksi ‘bahasa’ ala kadarnya, tetapi harus mencermati kata demi kata sampai paragraf demi paragraf. Sebab, tugas dosen pembimbing adalah mengarahkan penyusunan hasil penelitian, memberikan gambaran teoritis, referensi pendukung yang memadai, metodologi dan mencermati maupun menilai kemampuan analisis bimbingannya.

Jika kecermatan dalam bimbingan berjalan dengan baik, kalaupun mahasiswa meneliti objek penelitian yang sama, bisa dipastikan cara menuangkannya berbeda. Bahkan jika mahasiswa menetapkan permasalahan penelitian juga sama dengan peneliti lain dalam kerangka ilmu sejenis, pada kurun waktu sama, akan menghasilkan bentuk penulisan rekaman observasi yang berbeda.

Memang, tidak menutup kemungkinan menghasilkan konklusi akhir sehaluan, tetapi cara merepresentasikan fakta sosial juga berlainan. Sebab, hakikatnya, akademisi sebagai manusia, mempunyai ketidak-samaan kemampuan kognitif untuk ‘mengetahui’ merujuk pada rasio, kemampuan afektif untuk merasakan, yang bertumpu pada moral dan kemampuan konatif mencapai apa yang dirasakan. (Herman Suwardi, 2008). Esensinya, seorang peneliti dalam menuangkan pengalaman di lapangan dipastikan akan berbeda antara peneliti yang satu dengan yang lain.

Hakikatnya, dalam tataran ideal, mahasiswa maupun dosen pembimbing, memang wajib mengalokasikan waktu khusus dan konstan untuk mengerjakan skripsi, tesis maupun disertasi. Hubungan antara mahasiswa dengan dosen pembimbing dalam bentuk keterlibatan komunikasi integratif, akan menghasilkan naskah akademik yang bisa dipertanggungjawabkan, dan bebas plagiarisme yang semakin menggejala akibat kemudahan akses teknologi komunikasi untuk menelusuri karya ilmiah milik orang lain.

Namun tanpa mengabaikan munculnya ‘kemalasan’ dan kejenuhan pembimbing dalam mengkoreksi naskah akademik, bukan mustahil munculnya plagiarisme, akibat dosen pembimbing yang teramat percaya kepada mahasiswa bimbingannya. Padahal ini bentuk kelengahan dalam menegakkan nilai akademik. Karena itu, ketika calon sarjana, magister dan calon doktor bimbingannya mengambil karya orang lain, dosen pembimbing juga tidak mampu mendeteksi, karena tidak pernah memberikan saran substansial yang mengarah kepada isi disertasi.

Secara substantif, menyusun naskah akademik sebagai syarat kelulusan sarjana, magister maupun doktor perlu kejujuran. Di dalamnya terkandung pertanggung-jawaban moral yang membawa reputasi perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan dan pengajaran yang menjadi rujukan masyarakat. Namun, persoalannya, dalam belenggu efisiensi manajemen pendidikan yang semu, ketika gelar sarjana, magister maupun doktor diukur dan dibanggakan dari ketepatan pencapaian waktu minimal, maka keuletan meneliti dan kejujuran akademispun semakin terpinggirkan. ***

Penulis adalah Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Tarumanagara Jakarta, Dewan Pakar Aspikom Pusat.

Explore posts in the same categories: Budaya, Komunikasi, Pendidikan

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: