Komunikasi dan Suksesi Politik

Polkamnas

Sabtu, 08 Desember 2012 | 05:42:39 WIB

 

Pemimpin Nasional

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/107547

FA Logo Korjak_2

JAKARTA – Konstelasi politik Indonesia selalu penuh kejutan. Bisa jadi, sosok seperti Jenderal Pramono Edhie Wibowo, Mahfud MD, Ani Yudhoyono, atau Agus Suhartono bakal jadi tokoh yang mengejutkan dalam panggung politik Indonesia. Keempat tokoh tersebut bisa menjadi calon alternatif. Contohnya pada masa awal reformasi. Ketika itu, di saat-saat akhir, Poros Tengah memunculkan Gus Dur pada 1999.

“Figur seperti Mahfud sama Jenderal Pramono itu juga akan mendobrak kejenuhan politik yang sementara ini didominasi stok lama,”” kata Managing Director Neo Pollster Indonesia, Wawan Fahrudin, di Jakarta, Jumat (7/12).

Menurut dia, masyarakat mendambakan pemimpin baru yang terlepas dari masa lalu karena mengharapkan perbaikan dan tidak bisa berharap pada orang lama karena sudah lama berkuasa. Masyarakat betul-betul ingin orang yang terlepas dari masa lalu. Pemimpin baru itu harus punya kualitas yang bisa diharapkan untuk memajukan bangsa ini. “Dari empat nama itu, mereka tidak pernah terlibat dalam masalah yang membuat kita seperti ini,” kata Wawan.

Pemikiran mereka itu-itu saja, yang dipikirkan adalah partai, bukan orangnya. “Ingat saat SBY maju, kan partai sama sekali tidak diperhitungkan, ternyata bisa dua kali berkuasa. Ternyata konsep partai tidak menentukan. Harus diperdebatkan terus-menerus yang benar-benar bisa menjadi presiden. Ini yang harus kita cerahkan. Harus dilihat orang-orang baru yang menjadi calon kuat,” tandas Wawan.

Menurut Wawan, jika melihat politik riil serta menilik presidential threshold (ambang batas presiden), kemungkinan partai yang 03-12-08mengantongi suara 20 persen sementara ini hanya tiga parpol, yakni Partai Demokrat, Golkar, dan PDIP. “Artinya riil politik yang sekarang ini di atas kertas punya kans ya Ical atau Aburizal Bakri dari Golkar, Megawati dari PDI-P. Nah, sementara calon dari Demokrat belum ada,” kata dia.

Dengan kekosongan calon dari Demokrat, peluang Pramono atau Ani Yudhoyono cukup terbuka. Pramono punya modal dengan latar belakangnya sebagai petinggi militer. Bisa juga muncul calon Agus Suhartono. “Hanya saja belum ada momentum yang membesarkan dia, sementara ini Pramono masih di tengah-tengah,” kata Wawan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Komunikasi Universitas Tarumanegara, Eko Harry Susanto, menilai Pramono Edhie sebagai tentara profesional yang kredibilitasnya cukup memadai. Dari sisi jejak rekamnya cukup bersih. ““Tidak ada berita yang sumbang menyangkut Jenderal Pramono ini,” kata Eko.

Kultur Politik

Selain itu, sosok Pramono sejalan dengan kultur politik di Demokrat atau SBY sendiri. Bila Pramono pada akhirnya nanti bakal dicalonkan Partai Demokrat, menurut dia, peluang itu cukup besar. “Sebagai capres, tentu masuk akal. Apalagi ketika Demokrat sekarang krisis kepemimpinan yang mampu menggantikan SBY,” kata Eko.

Dalam penilaiannya, Jenderal Pramono cukup mendekati sosok SBY meski tentunya ada yang berbeda. Selama memimpin Angkatan Darat, Jenderal Pramono cukup lugas bertindak.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Husin Yazid, mengatakan dalam Pilpres 2014 nanti, pemilih pemula yang akan menjadi penentu. Pemilih pemula ini tengah gandrung pada sosok yang dianggap cekatan, cerdas, tegas, dan populis. “Sosok yang populis, cekatan, inovatif, dan energik itu yang diinginkan para pemilih muda,” kata dia.

Saat ini, kata dia, para pemilih muda merindukan sosok yang menjadi inspirasi, sosok yang bisa membawa kemajuan dan berani melakukan terobosan. “Pramono Edhie punya peluang. Dia layak pasar tapi belum layak hukum sebab Demokrat kan belum menyebut-nyebut namanya secara intens,” kata Eko.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN), Umar S Bakry, mengatakan tanpa ada peristiwa politik yang spektakuler, tokoh-tokoh mainstream seperti yang kerap muncul dalam rilis hasil survei akan tetap mendominasi dalam kontestasi pemilihan presiden. Dalam tempo kurang dari dua tahun ini, para tokoh alternatif mendapat tantangan untuk mampu meningkatkan popularitas serta kapabilitasnya di hadapan publik.

“Mesti ada yang spektakuler, yang sangat inspiring, yang membuat semua orang terpana dengan popularitasnya. Kalau normal-normal saja, ya tokoh-tokoh mainstream juga yang ada,” kata Umar.

Pengajuan nama Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, dia katakan, bukan hal yang mudah. Pertama, yang bersangkutan diragukan mampu mendapatkan kendaraan politik yang kuat. Kedua, dalam waktu yang singkat, ia harus bisa meningkatkan popularitasnya. “Kan yang di opinion leader itu belum mewakili rakyat secara keseluruhan,” ujar Umar.

Umar menegaskan bagi calon-calon alternatif, mutlak dibutuhkan sebuah isu politik yang spektakuler untuk mendongkrak popularitasnya. Jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang sekarang ini menjadi langganan rilis hasil survei masih kalah jauh. Dua tahun, meskipun waktu yang sempit, dikatakannya, bukanlah waktu yang mustahil untuk melakukan hal tersebut. ags/har/P-3

Explore posts in the same categories: Komunikasi, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: