KOMUNIKASI LINGKUNGAN (Tulisan ke 71)

Peran Media dalam Menjaga Lingkungan

Oleh Eko Harry Susanto

Written By wawan kurniawan on Friday, August 31, 2012 | 2:28 PM

Eksistensi media yang dapat menyebarkan pesan kepada khalayak luas, dimanfaatkan untuk menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan hidup untuk kesejahteraan manusia. Melalui pemberitaan, kampanye publik, iklan layanan masyarakat, dan propaganda, media diharapkan mampu berperan dalam menjaga keseimbangan alam, lingkungan sosial, ekonomi dan politik yang berkembang dalam satu kawasan.

Karena itu, media massa memiliki tanggungjawab dalam memberikan informasi, tayangan dan siaran yang benar, akurat, dan jelas (Henessy, 1990 : 24). Dikaitkan dengan kebutuhan informasi, Rosenthiel (dalam Haryanto, 2010:7), menyebutkan, hak atas informasi adalah hak dasar yang melekat dalam diri manusia. Hak atas informasi sebagai naluri kesadaran manusia untuk mengetahui hal – hal di luar dirinya. Hak ini diakui dalam pasal 19 Deklarasi Umum HAM, yang disahkan tahun 1948. karena itu, hak atas informasi harus terus dijaga dan diperjuangkan termasuk jika menghadapi manipulasi yang dilakukan oleh para pebisnis maupun pejabat pemerintah dan politisi.

Kendati demikian, media juga tidak semata – mata dapat menyebarkan pesan – pesan lingkungan hidup sesuai pesanan dari pihak tertentu yang berupaya mempengaruhi masyarakat.Sebab, dalam bingkai kebebasan informasi, mereka memiliki kemandirian untuk menetapkan pemberitaan ataupun penyiaran yang menjadi karakteristiknya.

Selain itu, media masa juga memiliki ideologi, yang terdiri atas orientasi bisnis dan idealisme dalam menjalankan fungsi informasi. Dengan demikian, pemerintah dan semua entitas yang mengklaim peduli terhadap lingkungan hidup, juga tidak bisa memaksa media untuk menyiarkan pesan tentang lingkungan hidup. Terlebih lagi yang berkonotasi pembelaan terhadap tuduhan pelanggaran lingkungan dari elite di tubuh pemerintah, perusahaan maupun politik, media massa berhak untuk melakukan penolakan.

Pada konteks ini, ideologi media dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti aspek historis, asosiasi kelembagaan, dan aspek lain yang terikat oleh tujuan media massa (Lull, 1998 :1). Dari faktor – faktor tersebut, media tetap diharapkan bisa ikut memelihara lingkungan dengan menjalankan fungsi kekritisan terhadap pelanggaran terhadap lingkungan hidup.

Kompleksitas pemeliharaan lingkungan yang sudah diatur dalam UU No.32/2008 secara substantive dapat berhasil penerapannya di masyarakat jika mendapat dukungan dari media yang peduli tehadap lingkungan. Isi pemberitaan media, sejatinya menyangkut aspek yang bernilai positif dalam pengendalaian lingkungan, sampai kepada berita yang mengancam kelangsungan hidup alam dan lingkungannya. Media selayaknya lebih berpihak kepada kepentingan masyarakat untuk jangka panjang. Karena itu isu kerusakan lingkungan yang dipicu oleh pembangunan berorientasi bisnis semata dan pengabaian kelestarian lingkungan harus menjadi perhatian dan diinformasikan kepada khalayak.

Hakikatnya, media dengan kekuatan komunikasinya harus berjalan seiring dengan program pemeliharaan lingkungan. Beberapa hal yang perlu didukung oleh media massa dalam penegakan peraturan lingkungan antara lain adalah (1) masyarakat berhak memperoleh pengetahuan tentang lingkungan hidup yang baik dan sehat; (2) setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau keberatan terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup; (3) setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan; (4) setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

Masalah – masalah tersebut memerlukan peran media massa untuk memberikan informasi yang transparan dan memacu keikutsertaan masyarakat dalam pengawasan terhadap lingkungan. Supaya informasi yang disebarkan media dipercaya khalayak, Gordon, Deines dan Havice (2010: 175) menyarankan, wartawan harus mengembangkan kemampuan untuk mengurangi ketidakpastian lingkungan melalui bekerjasama dengan ilmuwan. Oleh sebab itu, relasi antara pekerja media dengan ilmuwan dan sumber informasi lain yang dipercaya harus tetap dipertahankan.

Bagiamanapun juga, kondisi lingkungan yang sehat atau sebaliknya lingkungan yang rusak dan membawa dampak buruk bagi masyarakat di berbagai kawasan, selayaknya menjadi kepedulian media massa dalam menjalankan fungsi transparansi pemberitan. Jika media tidak menghiraukan penyimpangan dalam pengelolaan lingkungan, informasi yang beredar di masyarakat akan didominasi oleh pesan sepihak yang berasal dari pemerintah maupun para pemilik modal yang mengabaikan lingkungan hidup.

Padahal, dalam pasal 6 UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 jelas disebutkan, pers nasional melaksanakan fungsinya dalam memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal – hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. Jadi, fingsi pengawasan dan kritik harus tetap melekat di media massa.

Undang – Undang PPLH juga mengamanatkan perlunya tranparansi informasi dalam mengelola lingkungan hidup. Tidak boleh ada informasi yang disembunyikan karena menyangkut kepentingan ataupun kredibilitas pemerintah, pemilik modal dan tokoh masyarakat. Berdasarkan UU No. 32/2008, setiap orang dilarang memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi, merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar. Artinya, media massa dapat melakukan pemberitaan transparan, tanpa khawatir terhadap tekanan elite dalam kekuasaan negara maupun para pemilik modal yang memiliki otoritas luas di masyarakat.

Representasi dari keterbukaan informasi lingkungan hidup pada badan publik,- pemerintah di pusat maupun di daerah, harus mengembangkan sistem informasi lingkungan hidup yang transparan, demi mendukung kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan.

Sistem informasi lingkungan hidup paling tidak memuat informasi mengenai status lingkungan hidup, peta rawan lingkungan hidup, dan informasi lingkungan hidup lain. Sistem informasi lingkungan hidup dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dan wajib dipublikasikan kepada masyarakat. Jelas sistem informasi lingkungan bisa lebih diketahui oleh masyarakat jika didifusikan melalui media massa.

Menyangkut peran dalam pelestarian lingkungan, masyarakat memiliki hak untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Peran masyarakat dapat berupa penyampaian informasi atau laporan. Peran ini gaungnya lebih luas, jika memanfaatkan media massa, baik cetak maupun elektronik.

Laporan ketimpangan dalam pemeliharaan lingkungan hidup akan cepat direspon oleh masyarakat, pemerintah maupun lembaga swasta jika disampaikan melalui media massa. Dampak yang diharapkan dari pemberitaan atau penayangan problem lingkungan diharapkan pemerintah, pemilik modal dan pihak – pihak yang berkepentingan dengan lingkungan hidup dapat membuat solusi yang lebih baik. Jadi intinya, media massa bisa memengaruhi pemerintah dan pihak terkait dalam mencari solusi untuk mengatasi problem lingkungan hidup.

Namun persoalannya, dalam koridor kebebasan pers, ternyata media massa, khususnya televisi, lebih fokus kepada kemauan menonton khalayak, yang didasarkan kepada rating dan masuknya iklan dalam program siaran. Dengan demikian, berita yang mengungkap seputar pelestaraian alam diabaikan demi memburu rating.

Melihat kondisi ini, segala macam kampanye publik di media harus mampu menarik perhatian penonton. Caranya, dengan mengemas berbagai program sebagai tayangan yang menghibur. Sebab, tidak bisa dikesampingkan bahwa tayangan televisi yang mengeksplorasi budaya populer dan nilai konsumerisme jauh lebih disukai dibanding program siaran yang lebih serius dalam mengupas problem lingkungan.

Tayangan yang semata – mata menitikberatkan pada hiburan dan budaya populer bisa saja dikategorikan sebagai hambatan dalam kampanye publik untuk pelestarian lingkungan. Tidak bisa diabaikan, budaya populer memang lebih disukai khalayak dan dibuat untuk masyarakat pada umumnya, tanpa menghiraukan produsen budaya. (Fiske, dalam Gauntlett, 2008 : 27)

Media massa memiliki sejumlah kelebihan dalam penyebaran informasi yang ditujukan kepada khalayak luas. Namun permasalahannya, pemanfaatan media untuk kepentingan pemeliharaan lingkungan sangat bergantung kepada gerak laju media yang dipengaruhi oleh kondisi negara dan aneka peraturan kelembagaan, fungsi pemberitaan, penyiaran dan aspek lain yang berkaitan dengan orientasi media.

Terlepas dari hal tersebut, media massa dapat dipakai untuk memberitakan berbagai problem lingkungan, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian alam, dan dimanfaatkan untuk mempromosikan pemeliharaan lingkungan hidup. Hakikatnya, pemberitaan, kampanye publik dan iklan layanan masyarakat melalui media massa dapat menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam memelihara pelestarian alam.

Memang bukan jalan mudah untuk menyuarakan pemeliharaan lingkungan di media, mengingat media massa dengan kebebasan orientasainya, seringkali lebih menekankan aspek komersial dibandingkan idealisme untuk memberikan informasi yang bermutu bagi masyarakat. Kendati demikian, berpijak kepada fungsi ideal media massa, tetap melekat harapan agar media mendukung program pelestarian lingkungan demi kesejahteraan umat manusia secara berkelanjutan.

* Penulis dalah Pengajar Pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara Jakarta
ekohs@centrin.net.id

http://www.prianganpos.com/2012/08/peran-media-dalam-menjaga-lingkungan.html

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: