Tulisan ke 69 di Koran

Bisnis Indonesia, 3 September 2012

Komunikasi dan Konflik Antarkelompok

Konflik Antarkelompok Seringkali Diwarnai Penyerangan Fisik

Eko Harry Susanto
Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Konflik antarkelompok di Sampang Madura, semakin menambah daftar panjang keberingasan massa yang dipicu oleh perbedaan keyakinan, dan berlindung di balik demokratisasi politik maupun kebebasan berekspresi pasca reformasi

Perbedaan keyakinan telah memicu berbagai konflik yang tersebar di berbagai penjuru Tanah Air. Data dari berbagai lembaga swadaya masyarakat menunjukkan bahwa konflik antarkelompok semakin mengkhawatirkan. Bahkan The Wahid Institute, selama 2011 telah mencatat terjadi 93 kasus intoleransi beragama.

Sejumlah pihak menuduh bahwa negara tidak hadir dalam upaya mencegah terjadinya konflik, dan pemerintah dinilai gagal melindungi rakyat dari ancaman kerusuhan.
Memang dalam pembelaannya, institusi yang bertanggungjawab terhadap keamanan dan ketenteraman warga, selalu mengedepankan langkah – langkah hukum dalam upaya mendeteksi terjadinya konflik dan keberingasan massa.

Oleh sebab itu, dengan tidak menafikan tindakan maupun pendekatan legal formal yang sudah dilakukan pemerintah, alangkah baiknya jika segenap elemen masyarakat yang peduli terhadap nilai – nilai kemajemukan, berusaha meminimalisir konflik melalui strategi komunikasi antarbudaya di antara orang- orang yang berbeda nilai (value), sikap dan kepercayaan(belief).

Model komunikasi antarbudaya untuk meredam konflik, secara substantif menurut Samovar, Porter dan Mc.Daniel (2005), adalah upaya menumbuhkan nilai – nilai bersama yang menghasilkan rasa aman, saling menghargai dan menghindari konflik.

Titik tolak meminimalisasi konflik adalah menghilangkan etnosentrisme yang menganggap nilai – nilai kelompoknya jauh lebih unggul dibandingkan keyakinan yang dianut oleh kelompok lain.

Perwujudan etnosentrisme yang paling ekstrem dan mengkhawatirkan dalam kehidupan masyarakat majemuk, adalah menafsirkan nilai kebenaran, kejujuran, kesantunan relasi antarmanusia, kehidupan bermasyarakat dan bernegara hanya dimiliki oleh kelompoknya.

Celakanya, jika etnosentrisme dieksplorasi secara demonstratif, berpotensi memicu konflik di lingkungan masyarakat yang heterogen. Gejalan awal dari munculnya konflik ini adalah individu, kelompok maupun komunitas yang ada di masyarakat mengembangkan sikap yang bermuara kepada ketidakpercayaan (lack of trust) terhadap orang – orang yang memiliki karakteristik berbeda.

Oleh sebab itu, semua pihak yang ada di masyarakat, harus melakukan tindakan untuk memperkecil sikap etnosentrisme, demi untuk mencegah konflik antarkelompok.

Pelembagaan sikap etnosentrismeyang sejalan dengan sikap komunalisme, sektarianisme dan semangat sub- nasional, yang tidak menghiraukan nilai- nilai sosial budaya kelompok lain, akan menyulut pertentangan di wilayah yang berpenduduk multietnik.

Tindakan itu, semakin menjauhkan upaya untuk hidup berdampingan secara damai, jika para tokoh masyarakat, pemuka pendapat dan sejumlah elite politik maupun elite dalam kekuasaan negara justru sengaja mengelola ketidakpercayaan sebagai salah satu basis ketahanan sosial kelompoknya factor lain yang harus diperhatikan adalah selayaknya jika para tokoh masyarakat di berbagai bidang kehidupan sosial, ekonomi dan politik, tidak melakukan penarikan diri (withdrawl) ketika berinteraksi dan berkomunikasi dengan kelompok yang berbeda.

Penarikan diri dalam relasi antar kelompok, mendorong munculnya komunikasi eksklusif yang berakhir dengan pertikaian, karena tidak memberikan kesempatan kepada komunitas lain untuk melakukan interaksi secara seimbang.

Di lingkungan masyarakat yang heterogen dari sudut etnisitas, keyakinan dan budaya, interaksi harus berpijak kepada upaya mengeksplorasi kesamaan karakteristik dan mengedepankan empati kepada orang – orang yang bukan berasal dari kelompoknya.

Empati dalam perspektif komunikasi antarkelompok, merupakan partisipasi emosional dan intelektual secara imajinatif pada pengalaman orang lain, atau secara sederhana diartikan, bagaimana menempatkan posisi diri sendiri dalam kedudukan orang lain.

Pengabaian empati terhadap entitas yang berbeda, akan menghambat harmonisasi dalam hidup bermasyarakat.
Kesulitan untuk berempati, biasanya terkait pula dengan stereotip, yang menggeneralisasikan kesamaan perilaku seseorang dengan karakter kelompoknya. Sikap ini dinilai emosional dan mengganggu pluralism yang diunggulkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam wacana komunikasi antarbudaya, faktor stereotip adalah sikap yang paling banyak mewarnai kehidupan masyarakat majemuk.

Perpecahan Masyarakat

Meski sebagai hal yang umum, jika dikemas dengan aroma kebencian dan sinisme, bisa menjadi biang keladi perpecahan masyarakat yang paling membahayakan.

Hakikatnya, berbagai konflik antarkelompok di Indonesia juga dipicu oleh faktor stereotip terhadap keyakinan dasar yang melekat pada pihak pihak yang bertikai.

Mengekspresikan stereotip terhadap kelompok lain, berhubungan erat dengan munculnya prasangka dalam bentuk kecurigaan, kesangsian dan ketidakpercayaan terhadap pihak -pihak yang tidak disukai.

Di sisi lain, prasangka terikat oleh sikap mendiskusikan sisi negatif orang di luar kelompoknya (antilocution) dan kecenderungan menghindar dari kelompok yang tidak disukai (avoidance).

Sifat diskriminatif ini, berujung kepada serangan fisik (violence) dan pemusnahan terhadap kelompok lain dengan cara satu persatu maupun massal (extermination).

Konflik horisontal antarkelompok yang berbeda keyakinan di Sampang Madura, merupakan perwujudan dari prasangka yang berujung kepada penyerangan fisik terhadap komunitas yang dinilai tidak sejalan dengan keyakinan dasar kelompok dominan yang ada di wilayahnya.

Dalam skala makro, konflik antarkelompok yang berbeda keyakinan di berbagai penjuru Tanah Air, sering kali diwarnai oleh serangan fisik yang me robek nilai-nilai kebinekaan masyarakat.

Berpijak kepada pemahaman terhadap strategi komunikasi antarkelompok, maka sudah sepantasnya jika segenap elite dalam tubuh pemerintah dan masyarakat pada umumnya, mengaplikasikan model interaksi antarkelompok secara konsisten, demi mengembangkan kesadaran kolektif untuk mencegah konflik dan tindak kekerasan yang cenderung meningkat.

Namun persoalannya, dalam belenggu kebebasan, justru nilai- nilai perbedaan cenderung dipakai untuk mencari kekuasaan, ataupun memperkuat keunggulan posisi kelompok dalam persaingan yang tidak menghiraukan lagi nilai kebinekaan.

Explore posts in the same categories: Budaya, Komunikasi, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: