KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

http://www.beritasatu.com/budaya/71200-lawan-tren-k-pop-budaya-indonesia-harus-dikemas-lebih-populer.html

Lawan Tren K-Pop, Budaya Indonesia Harus Dikemas Lebih Populer

Rabu, 12 September 2012 | 09:44

Ada jarak antara budaya Indonesia dengan rakyat kebanyakan, khususnya anak muda

Fenomena generasi muda yang gandrung kepada musik dan artis Korea saat ini bisa disebut wajar saja. Sebab, teknologi komunikasi sudah sedemikian maju untuk mengirimkan informasi, termasuk pesan-pesan budaya yang dikemas secara populer. Indonesia juga seharusnya berani memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi untuk penanaman nilai-nilai budaya sendiri kepada khalayak muda.

Hal itu dikatakan oleh Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Tarumanagara sekaligus Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom), Eko Harry Susanto, saat ditemui di Jakarta, Selasa (11/9). Eko menilai, ada jarak antara budaya Indonesia dengan rakyat kebanyakan, khususnya anak muda. Akibatnya menurutnya, rakyat mencari nilai-nilai budaya dari negara lain yang tersebar luas di media massa.

“Bukan salah generasi muda yang suka SuJu (Super Junior) atau K-Pop. Teknologi komunikasi memberi pesan-pesan hebat, seperti tren seluruh dunia, sementara nilai-nilai kultural internal tidak ada keteladanan. Lalu bagaimana? Perkuat nilai budaya kita, kembangkan secara menarik dan lebih populer,” kata Eko.

Eko mengakui, fanatisme anak muda kepada budaya asing bisa melunturkan rasa cinta kepada budaya Indonesia. Tetapi menurutnya, bukan berarti anak-anak muda kehilangan jati diri bangsa atau rasa nasionalisme.

“Kita sebenarnya tidak kehilangan jati diri. Bahkan ada kerinduan besar anak-anak muda kepada rasa nasionalisme,” tandas Eko.

Dia mencontohkan anak-anak muda Indonesia yang masih setia mendukung Indonesia dalam kompetisi internasional sepakbola. Atau bahkan anak-anak muda yang ikut memberi dukungan saat binatang asli Indonesia (komodo) menjadi nominasi New Seven Wonder.

Contoh lain, kata Eko pula, adalah saat Malaysia mengklaim sejumlah budaya Indonesia, di mana anak-anak muda juga tak segan melakukan pembelaan lewat berbagai jejaring sosial.

Beri Ruang

Eko mengatakan, pemerintah seharusnya memberi ruang publik yang memadai untuk pengembangan budaya lokal. Lebih jauh, penyemaian budaya harus dilakukan secara populer, dengan memanfaatkan perkembangan zaman.

Misalnya, kata Eko, pemerintah bisa mewajibkan hotel-hotel untuk menyajikan tarian tradisional daerah. Selain itu, media televisi juga harus diwajibkan menampilkan pertunjukan tradisional dengan gaya modern. Misalnya, saat ini ada penampilan pesinden Soimah dalam sebuah acara televisi.

“Seharusnya budaya kita diberi ruang, sehingga masyarakat tidak merasa terasing,” ujarnya.

Eko menegaskan, budaya Indonesia harus bisa sebanyak mungkin dinikmati oleh rakyat. Dengan kata lain menurutnya, budaya jangan justru membuat rakyat semakin terkotak-kotak.

“Contohnya pertunjukan Matah Ati. Itu budaya yang dikemas sangat populer, tapi terlalu elite. Bolehlah ditampilkan Matah Ati untuk level pengusaha, tapi, tampilkan juga versi untuk rakyat. Coba buat down to earth,” tandasnya.

Penulis: SP/ Natasia Christy Wahyuni/ Ayyi Achmad Hidayah

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: