Komunikasi Politik

http://m.koran-jakarta.com/index.php?id=89679&mode_beritadetail=1

NASIONAL | Polkamnas
Beberapa Menteri Berkinerja Buruk Tetap Bertahan

Minggu, 29 April 2012
Pejabat Negara I Ubah Paradigma Menteri Atas Jabatan
JAKARTA – Dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, terdapat beberapa menteri yang ber kinerja buruk, tapi tetap bertahan. Para menteri bersangkutan lebih mencintai jabatannya daripada kepentingan bangsa yang lebih besar. Mereka beralasan bahwa pergantian menteri merupakan hak prerogatif presiden.

“Mestinya menteri yang tak cakap mundur karena tidak mampu melaksanakan tugas, seperti Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, yang mengundurkan diri karena merasa tidak mampu lagi menjalankan tugas, mengingat kesehatannya,” ujar Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), Toto Sugiarto, ketika dihubungi, Sabtu (28/4).

Bukti terdapatnya sejumlah menteri yang berkinerja buruk dan tidak optimalnya dalam menjalankan tugasnya kata Toto, dapat dilihat dari hasil evaluasi Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4).

Semestinya, apabila mendapat predikat berkinerja buruk, menteri bersangkutan legowo mengundurkan diri. Menurut Toto, Elit politik dan pejabat negara di negeri ini, khususnya menteri, masih terjebak pada paradigma sempit kekuasaan.

Tidak ada kepedulian dari mereka untuk mengedepankan kepentingan bangsa dan negara dibandingkan keuntungan pribadi atau kelompok. “Jabatan itu belum dianggap sebagai amanah, tapi peluang yang mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Dia mengatakan keputusan mundur Endang seharusnya mampu mengubah paradigma dari para menteri lain. Bahwa apabila seorang menteri yang waktunya akan banyak tersita untuk urusan selain persoalan negara, sebaiknya mengundurkan diri.

“Apa pun itu alasannya, tidak harus sakit, tapi juga yang lain, seperti hukum ataupun yang lainnya,” kata dia. “Mundur itu bukan bentuk lepas tanggung jawab, tapi justru sumbangsihnya supaya kementerian terkait ditangani orang yang tepat dan lebih efektif,” tandasnya.

Budaya Mundur
Pengamat politik UGM, Ari Dwipayana, juga sepakat bahwa budaya mundur perlu ditumbuhkan semisal terhadap menteri yang berkinerja buruk. Walaupun, menurutnya, kondisi demikian juga akan sangat sulit diharapkan menilik mentalitas para elit. “Karena ini persoalan kerelaan hati, sulit mengharap itu,” ungkapnya.

Dia mengatakan sebenarnya selain mengharap kerelaan dari menteri, Presiden juga dapat lebih aktif dalam mengevaluasi karena ukuran-ukuran evaluasi itu telah tersedia, baik yang berdasarkan atas kinerja maupun yang berdasarkan faktor politis.

Terkait kosongnya kursi Menkes dan Wakil Menteri ESDM, menurutnya, membuka peluang untuk perombakan kabinet (reshuffle). “Jadi pintu pembuka bagi presiden untuk lakukan penataan kabinet, pengisian yang kosong, dan konsolidasi kabinet,” tuturnya.

Apabila sebelumnya basis penataan adalah kinerja, namun menurutnya kali ini Kepala Negara dapat menggunakan basis politik seperti merealisasikan dorongan untuk memberi sanksi PKS. “Kita tunggu, apa momentum politik ini akan dimanfaatkan presiden,” kata Ari.

Sementara itu, Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, mengatakan belum ada pembicaraan mengenai siapa pengganti dari Endang sebagai Menkes. Termasuk, Presiden juga belum membicarakan mengenai siapa figur yang akan menempati kursi Wamen ESDM. Sampai saat ini, tugas-tugas di pos tersebut diambil alih oleh menteri atau wakil menterinya.

Julian menambahkan dia juga belum mendengar arahan Presiden Yudhoyono tentang perlunya reshuffle kabinet dalam waktu dekat. Menurutnya, jika nanti ada seseorang yang ditunjuk sebagai Menkes maupun Wamen ESDM, konteksnya bukan berarti terjadi reshuffle kabinet.

Dekan Fakultas Komunikasi Universitas Tarumanegara, Eko Harry Susanto, saat dihubungi di Jakarta, Sabtu, mengatakan keputusan Menteri Endang adalah contoh, bagaimana seharusnya pejabat bersikap ketika dihadapkan pada masalah yang membuat pekerjaannya tak maksimal.

Endang, kata dia, adalah pejabat yang punya kesadaran dan mampu mengukur diri sendiri. Tetapi, alangkah bagusnya jika kesadaran itu muncul saat merasa prestasi kerja buruk atau gagal. Budaya merasa gagal yang belum tumbuh di tanah air. har/ags/AR-3
ISTIMEWA

Explore posts in the same categories: Komunikasi, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: