TULISAN KE 66 DI KORAN

Partai Baru, Rivalitas dan Golput

Dr.Eko Harry Susanto

Jawa Pos, 30 November 2011

Meskipun verifikasi partai politik peserta pemilu 2014 dari Kementerian Hukum dan HAM belum tuntas, namun terdapat parpol baru yang menarik perhatian, yaitu Partai Nasdem yang berafiliasi kepada Surya Paloh, Partai Karya Republik (Pakar) pimpinan Tommy Soeharto, Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) dengan unggulan Sri Muljani Indrawati dan Partai Kemakmuran Bangsa Indonesia (PKBI) yang dikendalikan oleh Yenny Wahid.

Partai – partai tersebut menarik perhatian karena tidak lepas dari keberadaan para tokoh di belakangnya. Dengan demikian, wajar saja jika parpol baru selalu mengeksplorasi tokoh terkenal, sebagai figure untuk mempengaruhi masyarakat agar menjadi konstituennya. Tetapi sayang, ada kecenderungan yang dibidik adalah massa atau simpatisan partai “masa lalu” para elite partai baru.

Semangat Rivalitas

Dengan kata lain, Partai Nasdem berupaya menyasar konstituen Partai Golkar, yang masih mengingat peran kepemimpinan Surya Paloh di partai beringin. Sedangkan PNR tidak jauh berbeda, mengarah untuk merebut simpati massa Golkar, yang merindukan sosok Pak Harto dalam menjalankan pemerintahan. Tentunya, Yenny Wahid juga berusaha menggapai pecinta Gus Dur yang ada di partai pimpinan Muhaimin Iskandar.

Tidak ketinggalan Partai SRI, meskipun Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II itu, bukan sebagai aktivis partai politik, namun tidak bisa dinafikan ia berada di lingkaran istana, yang sudah barang tentu sehaluan dengan eksistensi Partai Demokrat. Karena itu, bukan mustahil jika Partai SRI akan merapat ke konstituen dari sayap – sayap politik partai berlian biru.

Memang tidak ada yang salah dengan strtaegi semacam itu, mengingat tokoh partai baru paham sekali dengan karakteristik pemilih partai – partai yang dijadikan sasaran merebut suara. Namun, tidak bisa dikesampingkan, tidak mudah menuai hasil yang dikehendaki, mengingat jumlah pemilih tidak beranjak naik, sedangkan jumlah partai terus bertambah. Jadi daripada menggarap massa partai lain, yang diwarnai semangat “rivalitas”, alangkah lebih bermanfaatnya, jika elite Partai Nasdem, Pakar, SRI dan PKBI berusaha mencari dukungan dari mereka yang tidak mau memberikan suara pada pemilihan umum tahun 2009.

Eksistensi Golput

Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum, jumlah suara sah dalam Pemilihan Presiden tahun 2009 adalah 121.504.481 suara, dari 176.367.056 pemilih terdaftar di seluruh Indonesia dan luar negeri. Jumlah itu sudah termasuk 382.383 orang pemilih yang menggunakan Kartu Tanda Penduduk akibat ketidaktertiban adminstrasi pemilih.

Dari angka – angka tersebut, berarti ada 49.212.158 yang tidak menggunakan hak pilihnya alias golongan putih (golput) . Jumlah yang tidak jauh berbeda terjadi dalam pemilihan legislatif tahun 2009. Ada 49.677.076 atau sekitar 27,77 % dari jumlah pemilih terdaftar. Jumlah ini, tentu lebih besar, dibandingkan dengan perolehan Partai Demokrat, sebesar 21.703.137 suara sah.

Oleh sebab itu, dengan tidak mengesampingkan eksistensi masyarakat yang tidak bisa memilih akibat kekacauan administratif, tetapi tidak bisa disangkal bahwa, kelompok golput tidak dihiraukan oleh parpol peserta pemilu tahun 2009. Sebab, keberadaan kelompok ini, tidak memiliki pengaruh dari segi legal formal. Penetapan hasil Pemilu Legislatif maupun Presiden dan Wakil Presiden, tidak ada kaitannya dengan besarnya jumlah golput.

Padahal jumlah partisipan dalam pemungutan suara yang rendah bisa berdampak buruk dalam kehidupan politik kenegaraan. Ditegaskan oleh Grier Stephenson (2001), guru besar ilmu pemerintahan dari Franklin & Marshall College Amerika Serikat, bahwa “salah satu proses demokrasi yang paling penting adalah mendorong warga, untuk memberikan suara dalam pemilihan umum”. Pemilu yang diikuti oleh pemilih dalam jumlah kecil merupakan tanda bahaya. Karena cenderung menghasilkan pejabat – pejabat tanpa dukungan mayoritas warga yang berhak memilih, tetapiakan memperbesar pengaruh organisasi – organisasi politis, mempunyai motif ikut menikmati kemenangan yang diraih.

Sumber Konstituen

Peringatan bahaya, jika golput mendominasi, tampaknya tidak dihiraukan parpol senior yang mengikuti kompetisi politik nasional tahun 2009. Oleh sebab itu, Surya Paloh, Tommy Soeharto, Yenny Wahid dan elite Partai SRI, yang menyuarakan perubahan, harus meningkatkan partisipasi jumlah pemilih pada tahun 2014. Tindakan mendorong keterlibatan masyarakat dalam pemilu, bukan untuk memenuhi kebutuhan partainya dalam dalam kalkulasi suara saja, tetapi demi kepentingan bangsa dan negara yang demokratis. Sebab, hiruk pikuk kampanye politik menggunakan berbagai strategi penyebaran pesan, termasuk melalui televisi yang berbiaya tinggi, ternyata tidak bisa mendongkrak meningkatnya jumlah pemilih dalam perhelatan politik yang dipakai sebagai salah satu tolok ukur demokrasi bernegara.

Oleh sebab itu, kalau partai baru tetap bersemangat “menyerang” entitas politik lain dalam mencari dukungan, sepertinya sulit memperoleh suara memadai dalam pemilu 2014. Di sisi lain, jika memiliki perhatian besar dalam menggarap golput yang skeptis terhadap peran parpol, bukan mustahil akan melenggang dengan mudah ke kursi legislatif di Senayan. Namun persoalannya, pelembagaan kultur politik “rivalitas” demokrasi semu, masih kuat mencengkeram elite politik kita, sehingga nasib partai politik baru, bisa saja tidak segegap gempita kemunculannya.

*) Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Tarumanagara Jakarta, serta
ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Pusat.

Explore posts in the same categories: Budaya, Komunikasi, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: