PILKADA JAKARTA – KOMENTAR

KORAN JAKARTA

Megapolitan
Jumat, 18 November 2011 | 01:50:24 WIB

JAKARTA – Jakarta, ibu kota negara yang sarat akan keanekaragaman, membutuhkan pemimpin yang memiliki semangat prulalisme dan toleransi yang tinggi. Karena itu, sudah tak relevan lagi jika dalam pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) nanti calon gubernur dan wakilnya mendengung-dengungkan hal yang berbau kesukuan.

“Pemimpin (gubernur dan wakil gubernur) yang memunyai komitmen akan pluralisme sangat dibutuhkan Jakarta mengingat Jakarta sebagai ibu kota warna masyarakatnya begitu beragam. Pemimpin itu bisa berasal dari berbagai suku, agama, dan etnis,” kata Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi dari Universitas Paramadina Eko Harry Susanto, Kamis (17/11).

Seharusnya, kata dia, yang didengungkan atau dikampanyekan para bakal calon gubernur dan wakil gubernur, selain program dan konsep membenahi Jakarta, adalah politik kebangsaan. “Semangat pluralisme pasangan calon gubernur ibu kota Jakarta harus menonjolkan pluralisme. Jangan hanya merangkul kelompok tertentu, tapi juga kelompok yang lain,” katanya.

Gubernur Ibu Kota juga harus seorang konseptor atau punya konsep yang jelas yang ditawarkan kepada masyarakat Jakarta mengenai cara membenahi beragam masalah Jakarta yang begitu kompleks. Bukan konseptor yang elitis, tapi konseptor yang mengakar.

“Harus seorang konseptor yang oke, tapi dia juga harus dikenal publik akar rumput. Jangan disuka elite saja, tapi juga harus dikagumi massa,” kata dia.

Selain itu, gubernur dan wakilnya haruslah orang yang mampu memengaruhi kaum terdidik atau tokoh yang bisa meyakinkan pemilik modal agar tetap terus berinvestasi di Jakarta di samping program yang bisa dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat Jakarta.

Eko menilai sosok seperti Faisal Basri memiliki kriteria tersebut. Menurut dia, sebagai akademisi yang kritis, Faisal juga merupakan sosok pluralisme. Lazimnya orang kampus, ia terbiasa dengan hal yang ilmiah, dan pluralisme dijunjung tinggi.

“Tinggal sekarang tugas Faisal adalah bagaimana sosok dan idenya itu bisa diterima kalangan akar rumput. Saya kira, dia sosok alternatif pemimpin Jakarta yang tak terlalu berbau politik,” kata dia. ags/P-2

Sumber : http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/76354

RALAT : Paramadina seharusnya Tarumanagara (Eko Harry S)

Explore posts in the same categories: Komunikasi, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: