Pilkada DKI

Perkotaan Minggu
Koran Jakarta 21 Agustus 2011

Pilkada DKI

Calon Pemimpin Harus Banyak Berdialog dengan Rakyat

 Seorang pemimpin, idealnya, harus paham betul kondisi masyarakat yang dipimpinnya. Dengan dekat pada rakyatnya, pemimpin akan merasakan kenyataan yang dialami warga yang dipimpinnya. Maka, seorang calon pemimpin, ketika berniat menjadi pemimpin, harus sering turun gunung dan banyak berdialog dengan rakyat.

Pengajar ilmu komunikasi politik di Universitas Tarumenegara, Eko Harry Susanto, mengatakan hal itu di Jakarta, Minggu (21/8). Menurut dia, para calon gubernur adalah calon pemimpin. Karena itu, tugas utamanya adalah menyejahterakan warga yang dipimpinnya. Jika tak paham dengan kondisi masyarakat yang dipimpinnya, kewajibannya sebagai pemimpin akan kurang maksimal.

“Maka, bagi calon gubernur Jakarta, saya minta banyak-banyaklah turun gunung, banyak berdialog langsung dengan warga yang akan dipimpinnya. Jangan menyapa warga hanya sebatas iklan dan spanduk,” kata dia.

Dengan turun gunung dan menyapa serta berdialog secara langsung dengan warga, setidaknya masyarakat akan merasa dihargai keberadaannya. Dengan begitu, seorang calon pemimpin tidak akan dipandang elitis oleh warganya.

“Pemimpin itu adalah abdi, bukan majikan, maka banyaklah berdialog dengan pemberi mandat dalam pemilihan nanti. Obrolkan apa rencana dan program kalau terpilih nanti agar masyarakat setidaknya paham dan tak terus membeli kucing dalam karung,” kata dia.

Sementara itu, staf pengajar komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Gun Gun Heryanto, juga sependapat. Menurut dia, gaya marketing politik dengan model pure publicity melalui spanduk, baliho, atau poster sudah tidak relevan lagi.

Dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Jakarta yang bakal dihelat pada 2012, sebenarnya yang dibutuhkan adalah memperbanyak publisitas maupun kampanye dengan pendekatan dialektis, misalnya lewat forum debat. Forum debat adalah ciri masyarakat urban dalam mencari solusi terbaik.

“Forum debat yang harus diperbanyak agar publik kristis. Pendekatan dengan model spanduk dan sejenisnya itu seharusnya dikurangi. Gunakan cara-cara yang lebih edukatif, cerdas, terekam, dan terukur,” urainya.

Seperti gayung bersambut, para kandidat yang hendak maju ke gelanggang Pilkada Jakarta memang kini rajin tebar pesona. Tak hanya lewat iklan, tapi juga langsung menyambangi kantong-kantong pemilih. Djan Faridz, misalnya, calon gubernur yang sudah diusung resmi oleh Partai Hanura, di bulan puasa kali ini rajin menggelar acara buka bersama dengan elite partai, ormas, juga dengan masyarakat Jakarta. Pun Nachrowi Ramli, yang kian getol mendatangi komunitas dan organisasi massa di Jakarta.

Tantowi Yahya, kader Golkar yang juga berambisi menjadi DKI-1, sangat rajin turun gunung, langsung memperkenalkan dirinya pada masyarakat. Bahkan Ramadan ini, berkeliling kelurahan di Jakarta menjadi program tebar pesona utamanya. Koran Jakarta sempat merekam acara tebar pesona ala Tantowi Yahya.

Minggu petang, Tantowi mengunjungi Kelurahan Menteng. Ia datang berbaju koko, berkopiah, disambut meriah dengan musik marawis. Para tokoh masyarakat dan pejabat setempat ikut pula menyambutnya. Di sebuah lapangan bulu tangkis, Tantowi memperkenalkan diri sebagai calon gubernur DKI.

Silaturahim langsung dengan warga seharusnya menjadi hal yang utama bagi calon pemimpin. “Pasti masyarakat hanya hapal dirinya dari layar televisi. Maka dengan langsung menyapa, masyarakat akan tahu dan menilai langsung sosoknya. Di antara kita, banyak yang belum bertemu langsung. Pertemuan kita hanya di layar televisi. Saya yang sering membagikan uang miliaran rupiah di acara Who Wants to Be Millioner,” katanya.

Turun langsung menyapa warga sangat penting. Menurut dia, banyak program pemerintah di Jakarta tak berjalan karena memang tak mendapat dukungan dari masyarakat. Warga Jakarta harus disadarkan bahwa Jakarta adalah rumahnya sendiri, bukan semata-mata kota persinggahan. “Kalau Jakarat sudah dianggap sebagai rumahnya sendiri oleh warga Jakarta, saya yakin banyak masalah bakal bisa diurai,” ujarnya. agus supriyatna/P-3

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: