Tulisan ke 64 di Koran

Penutupan Prodi dan Hak Hidup PTS

Dr. Eko Harry Susanto

Suara Pembaruan, 13 Juli 2011

Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh, dalam satu kesempatan di Malang, pada Maret 2011, mengungkapkan bahwa, 30 % Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia tutup, karena program studi (prodi) tidak  diminati, dan kalah bersaing dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Tentu saja ini berita yang memprihatinkan, mengingat tidak semua lulusan Sekolah Menengah Atas / Kejuruan, bisa menikmati pendidikan tinggi.

Fakta tentang prodi di PTS yang gulung tikar, memang tidak bisa  dipungkiri. Namun bukan sebatas tidak diminati dan kalah bersaing, tetapi dipicu pula oleh dinamika politik, tuntutan bisnis dan orientasi masyarakat yang berubah. Jadi bukan bersifat substantif, terkait bidang ilmu yang sudah tidak mampu memberikan kontribusi positif dalam kehidupan manusia. Padahal, jika prodi dibentuk bukan sebatas untuk mengejar kebutuhan sesaat yang menjadi trend, bisa saja tetap bertahan, dan masih mampu memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan manusia berkelanjutan.

Oleh sebab itu, untuk menghindari penutupan prodi, Kemendiknas selayaknya ”mencermati” pembukaan prodi baru di perguruan tinggi swasta, dengan mengkaitkan pada kegunaan, dan keberlanjutan ilmu pengetahuan yang ideal. Sebab, ada kecenderungan, ketika suatu disiplin ilmu dinilai mampu memberikan manfaat praktis bagi dunia usaha dan masyarakat, maka bermunculan pengajuan ijin pembukaan prodi yang sedang “booming” seperti halnya yang terjadi pada bidang ilmu komunikasi saat ini.

Pada masa sebelum reformasi 1998, prodi ilmu komunikasi berjumlah kurang lebih 24 di PTN dan PTS. Namun memasuki reformasi yang mengusung kebebasan berekspresi, pada tahun 2011, jumlahnya meningkat dalam kisaran 220 PTN dan PTS. Jika prodi ilmu komunikasi dibuka semata – mata mengejar ”kekinian” yang bertumpu kepada demokratisasi informasi, bukan mustahil akan berimplikasi terjadinya kejenuhan. Walaupun dalam koridor globalisasi, bidang ilmu komunikasi masih memiliki peluang jangka panjang yang memadai, untuk mendukung tercapainya kesejahteraan moral dan material.

Kegalauan PTS

Namun, sesungguhnya yang menjadi “problem potensial” pengelola PTS bukan sebatas prodi yang ditutup karena sepi peminat, tetapi justru prodi lain, yang semula mampu menerima mahasiswa dengan jumlah layak, kini menghadapi kesulitan mencari calon peserta didik. Kondisi ini terjadi, bisa saja sebagai dampak pertambahan PTS yang saat ini mencapai 3017 institusi. Eksistensi PTS yang didukung oleh model akreditasi pendidikan tinggi terstandar, menjadikan perguruan tinggi swasta secara “legal formal” memiliki kedudukan sama dalam hal mutu dan pelayanan, tetapi sudah barang tentu tidak terkait dengan kekuatan “jaringan alumni” maupun

pencitraaan institusi. Akibat langsung dari peningkatan jumlah perguruan tinggi swasta adalah, terjadinya persaingan ketat antar PTS dalam upaya menjaring calon mahasiswa. Padahal, diduga lulusan sekolah menengah atas/ kejuruan yang berminat melanjutkan ke perguruan tinggi, jumlahnya tidak sebanding dengan banyaknya lulusan yang mencapai 1,5 juta orang.

Berlomba untuk menarik minat peserta didik sesama perguruan tinggi swasta, merupakan hal yang biasa. Tetapi yang dirisaukan adalah,
kecenderungan PTN menerima mahasiswa baru melalui jalur mandiri, yang terlepas dari seleksi nasional. Malah dalam perkembangannya, jalur penerimaan mahasiswa mandiri, menjadi kelaziman ketika ditetapkannya
sejumlah PTN sebagai Badan Hukum Milik Negara, yang berhak mencari sumber dana sendiri. Bahkan pola penerimaan internal ini semakin menguat, setelah didukung oleh UU No: 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan, yang memiliki semangat privatisasi pengelolaan dana.

Implikasi

Semaraknya jalur mandiri di berbagai PTN, mengakibatkan munculnya ”bangku kosong” di PTS, khususnya di perguruan tinggi swasta yang tidak memiliki “segmentasi spesifik” dan ” sangat bergantung” kepada calon mahasiswa yang gagal masuk PTN. Oleh sebab itu, dengan dibatalkannya UU BHP pada bulan Maret lalu, dan diberlakukannya Peraturan Pemerintah No. 66/ 2010, tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, yang menetapkan PTN wajib menjaring calon mahasiswa, melalui penerimaan secara nasional minimal 60% dari setiap prodi, diharapkan bisa memberikan dampak positif berantai terhadap PTS yang kekurangan mahasiswa.

Memang PTN masih memiliki kesempatan menerima mahasiswa baru lewat jalur mandiri 40 %. Tetapi demi memberikan hak hidup PTS untuk   memperoleh mahasiswa, maka tidak ada salahnya, pemegang otoritas pendidikan, tetap mempertimbangkan dengan cermat, jumlah ideal mahasiswa baru di PTN. Selain itu, PTN diharapkan mau mengumumkan secara transparan, tentang jumlah mahasiswa yang akan diterima kepada khalayak luas. Dengan keterbukaan informasi, perguruan tinggi milik pemerintah, harus konsisten menerima mahasiswa baru, sesuai jumlah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat, tanpa ada penambahan yang dikaitkan dengan atribut jalur mandiri.

Namun persoalannya, dalam koridor demokratisasi politik, dan belenggu pengangguran lulusan universitas yang berjumlah sekitar 1153.450 orang, bisa saja, meskipun pemerintah sudah melakukan pengetatan pembukaan prodi, dan transparansi penerimaan jumlah mahasiswa PTN, bukan berarti PTS terbebas dari kesulitan mencari mahasiswa. Sebab maraknya perguruan tinggi asing yang menjaring calon mahasiswa di Indonesia, dan banyaknya pengangguran yang memicu skeptisme melanjutkan kuliah, merupakan faktor yang berpotensi mengurangi jumlah mahasiswa dan berakibat pada penutupan program studi di PTS.

Dr. Eko Harry Susanto
Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara Jakarta. Ketua
Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Pusat.

Explore posts in the same categories: Ekonomi, Komunikasi, Pendidikan

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: