TULISAN DI MEDIA KE 62

Komunikasi Memperkuat Kebinekaan

Oleh Eko Harry Susanto
Suara Karya, Kamis, 26 Mei 2011

Demokrasi politik pascareformasi kenegaraan, memicu kekerasan antarkelompok dan mendorong menguatnya perilaku radikalisme. Perilaku macam ini tidak lagi menghiraukan eksistensi kebhinekaan sebagai landasan kehidupan bernegara.

Jika kondisi ini tidak diselesaikan secara tuntas dengan tindakan nyata, dalam arti hanya melalui jargon dan retorika pencitraan, maka pluralisme sebagai pilar kekuatan bangsa akan menghilang lebih cepat. Implikasi lebih jauh adalah munculnya disintegrasi bangsa berbasis semangat sektarian, yang lebih mengedepankan kepentingan kelompok.

Tanpa mengesampingkan aspek legal, keamanan, dan pendekatan sosial dari pemerintah maupun sejumlah entitas yang peduli terhadap terjaganya kebhinekaan, alangkah baiknya jika segenap elemen masyarakat berusaha meminimalisir konflik. Antara lain, melalui pendekatan komunikasi antarkelompok yang dapat menyatukan perbedaan.

Pendekatan komunikasi antarkelompok untuk meredam konflik, secara substantif menurut Samovar, Porter dan Mc Daniel (2005), adalah upaya menumbuhkan nilai-nilai bersama yang menghasilkan rasa aman, saling menghargai dan menghindari konflik. Titik tolak meminimalisasi konflik adalah menghilangkan nilai sektarian yang memiliki relasi kuat dalam menumbuhkan sikap komunalisme. Sebab, perilaku yang menutup diri terhadap kelompok lain, ini berbahaya bagi masyarakat majemuk seperti di Indonesia.

Selain itu, komunalisme sebagai semangat kelompok, cenderung ‘mematut-matut’ diri, bahwa nilai-nilai komunitasnya jauh lebih unggul dibandingkan keyakinan yang dianut oleh kelompok lain. Jika suatu kelompok merasa paling unggul, maka representasi yang mudah dideteksi adalah, mereka selalu menafsirkan bahwa nilai positif hanya dimiliki oleh kelompoknya.

Pelembagaan sikap yang tidak menghiraukan nilai sosial budaya kelompok lain itu, akan menyulut pertikaian di lingkungan masyarakat yang multi etnik. Dengan kata lain, menjauhkan upaya untuk hidup berdampingan secara harmonis, sebagaimana harapan masyarakat.

Namun, tantangan kebhinekaan, sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan sebatas berkembangnya semangat komunalisme saja. Tetapi, minimnya empati dalam hubungan antarmanusia, juga menjadi pemicu menguatnya semangat kelompok yang berpotensi mengabaikan kebhinekaan. Padahal, empati merupakan partisipasi emosional dan intelektual secara imajinatif yang mampu mengikat perbedaan dalam bingkai kebhinekaan yang harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Secara faktual, berbagai tindak kekerasan, radikalisme dan konflik antarkelompok di Indonesia memang dipicu oleh menguatnya semangat sub-nasional yang berbahaya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, melalui pendekatan komunikasi antarkelompok yang menghilangkan sekat sektarian dan komunalisme dalam bentuk semangat kebersamaan harus segera diwujudkan.
Namun yang lebih penting, bagaimana elite politik dan elite dalam kekuasaan negara maupun tokoh masyarakat pada umumnya, mewujudkan komunikasi yang menjunjung tinggi tolereransi terhadap perbedaan. Sebab, dalam belenggu kebebasan dengan dalih demokrasi, komunikasi antarkelompok yang integratif justru menghadapi tantangan berat.

Model kepemimpinan yang mampu menyatukan suara dalam bingkai ‘bebas dari kepentingan’ kelompok, dan demi keadilan bagi semua orang, semakin langka ditemukan. Pola komunikasi antarelite di berbagai lapisan kekuasaan, juga tidak mencerminkan piramida kepercayaan masyarakat. Dalam arti, tidak ada satu pun pimpinan yang mampu memposisikan sebagai pucuk sebuah segitiga informasi yang dijadikan rujukan utama, dalam berbagai penyelesaian konflik dan kekerasan yang bernuansa sektarian.

Memang, tidak bisa dikesampingkan bahwa kebebasan berkomunikasi yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 harus dikedepankan. Namun, bukan berarti setiap elite bisa menyuarakan kepentingannya yang tidak lepas dari nilai kebhinekaan. Terlampau banyak komentar elite yang mengkritik kekerasan akibat komunalisme, menjadi suatu anti klimak di ujung kalimatnya yang penuh dengan basa-basi perkecualian.

Betapa banyak pembicaraan publik yang dieksplorasi media. Namun, jika ditelaah dalam bingkai obyektif, secara terselubung berbalik arah seperti mendukung tindak kekerasan. Tentu saja retorika elite semacam ini, seperti memberikan pengesahan terhadap tindakan kekerasan berbasis perbedaan kelompok.

Mencermati kondisi itu, untuk menghilangkan naluri sub-nasional maupun komunalisme yang berpotensi memicu tindakan kekerasan dan radikalisme, tentu saja bukan sebatas menggalakkan nilai Pancasila yang disinyalir memudar. Tetapi, yang lebih aktual untuk dilaksanakan adalah bagaimana para elite memiliki kesepakatan dalam komunikasi yang mampu menjaga terpeliharanya masyarakat majemuk di Indonesia. Dengan kata lain, elite politik dan elite dalam kekuasaan negara, meskipun memiliki perbedaan ideologi dalam menyejahterakan rakyat, tetapi harus sepakat untuk melakukan komunikasi yang beradab, demi menegakkan kebhinekaan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun persoalannya, dalam perangkap demokrasi integralistik yang menafikan perbedaan, dan demi meraih popularitas di masyarakat, para elite justru cenderung mengeksplorasi retorika yang bersifat sektarianisme, sebagai basis kekuatan kelompok. Oleh sebab itu, sangat wajar jika berkembang anggapana bahwa upaya mengikis semangat sektarian, berjalan seperti siklus. Tampaknya maju ke depan, padahal sesungguhnya mengalami kemunduran. ***

Penulis adalah doktor komunikasi, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Tarumanagara, Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom) Pusat

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi, Pendidikan, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: