KOMUNIKASI BENCANA

Eksistensi Komunikasi dalam Menghadapi Bencana

Dr. Eko Harry Susanto

Fakultas Ilmu Komunikasi Univ. Tarumanagara Jakarta
ekohs@centrin.net.id, ekoharry@yahoo.com

Abstrak

Ketika bencana silih berganti menerpa sejumlah wilayah di Indonesia, muncul berita – berita simpang siur yang memperingatkan akan terjadi lagi tsunami, gunung meletus, gempa, banjir dan bencana lainnya yang lebih dahsyat. Tentu saja aliran pesan dari sumber yang tidak jelas, menambah kekhawatiran masyarakat yang belum tuntas menghilangkan kepedihan sebagai korban. Aliran pesan tentang bencana memang cenderung bergerak bebas tanpa dikelola dengan keteraturan yang terkoordinasi dalam manajemen komunikasi integratif. Padahal, dalam perspektif tanggung jawab negara terhadap keselamatan rakyat, pemerintah sejatinya menjalankan fungsi diseminasi informasi dengan meneruskan berita seputar gempa dari berbagai sumber yang dipercaya, demi mengurangi ketidakpastian yang berkembang di masyarakat.

Kata Kunci : Informasi, Komunikasi, Bencana, Peran Pemerintah

I. PENDAHULUAN

Bencana alam seolah – olah menjadi akrab ditelinga kita, bahkan di sejumlah kawasan, interaksi dengan bencana adalah suatu kelaziman yang tidak bisa dihindarkan. Ada unsur kepasrahan ketika bencana dikaitkan dengan nasib manusia dalam mitos, legenda dan cerita – cerita rakyat yang berujung kepada pelembagaan nilai fatalistik menghadapi musibah.

 

Kendati demikian, bukan berarti, semua keyakinan dasar masyarakat yang bersumber kepada nilai – nilai tradisional, khususnya di kawasan rentan bencana selalu merugikan, sebab teramat banyak pesan yang terkandung dalam cerita rakyat maupun mitos yang berkembang, justru memberikan pelajaran berharga cara menghadapi bencana alam.

 

Karena itu, institusi pemerintah dan entitas lain yang peduli terhadap penanganan bencana, tidak bisa hanya mengandalkan aneka peraturan sebagai landasan dalam menangan bencana, tetapi selayaknya jika memperhatikan karakteristik di kawasan bencana alam maupun bencana sosial lainnya. Kendati demikian, bukan berarti keyakinan dasar masyarakat yang bersumber kepada pelembagaan sosial – kultural harus selalu diunggulkan, tetapi bagaimana nilai positif kearifan warga setempat harus berdampingan dengan peraturan sebagai pijakan kerja kekuasaan negara, lembaga swasta maupun kelompok masyarakat yang peduli terhadap penanganan bencana.

 

Mengintegrasikan karakter masyarakat kawasan rawan bencana dengan regulasi pemerintah dalam penanganan bencana, bisa tercapai dengan baik jika keduabelah pihak mampu menciptakan komunikasi kohesif yang menghasilkan pemahaman bersama. Namun persoalannya dalam kondisi darurat bencana, membuka sinyal komunikasi untuk menangani korban dengan cepat, tidak mudah untuk dilaksanakan. Sebab, lembaga pemerintah dibelenggu oleh belantara peraturan, sedangkan masyarakat, selain tetap berpijak kepada nilai setempat, juga dikuasai oleh pesan – pesan dari sumber yang tidak jelas nilai faktualnya.

 

Penanganan bencana yang menghendaki kecepatan dalam membantu korban, mendorong berbagai kelompok masyarakat ikut andil dalam memberikan bantuan. Namun disayangkan, pola pemberian bantuan kurang dipahami, akibat langkanya informasi penanganan bencana yang integratif dari pemerintah. Karena itu, tidak heran jika yang menonjol di kawasan bencana adalah simbol – simbol partai politik maupun kelompok – kelompok dalam masyarakat yang lebih mengedepankan komunikasi untuk menggalang pencitraan.

Padahal, sejak Tsunami Aceh sampai banjir lahar dingin awal tahun 2011, bencana alam yang secara kuantitas meningkat perlu ditangani bersama oleh pemerintah dan masyarakat. Dampak sosial, ekonomi yang semakin luas memang tidak mudah untuk ditanggulangi dengan cepat oleh pemerintah sendiri, sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap keselamatan masyarakat. Dalam menyikapi problem bencana, Bachtiar Chamsah (2007) menegaskan, kompleksitas bencana di Indonesia, harus ditangani oleh semua pihak yang secara formal sebagai penanggungjawab kejadian yang berhubungan dengan bencana alam dan bencana sosial lainnya.

Sesungguhnya, melalui berbagai lembaga sub – ordinat kekuasaa negara, pemerintah sudah menjalankan manajemen bencana, tetapi akan lebih baik lagi jika membentuk jaringan komunikasi integratif bersifat kesetaraan, yang melibatkan lembaga swasta dan masyarakat di kawasan bencana. Kendati demikian, pemerintah harus berperan sebagai poros informasi bencana yang bisa dipercaya oleh semua pihak.

Secara substansial, negara mempunyai kewenangan untuk menetapkan pedoman dalam pencegahan bencana, penanganan darurat, rehabilitasi, serta rekonstruksi secara adil dan menginformasikan peta rawan bencana maupun prosedur penanganan bencana kepada masyarakat.

Untuk menjalankan fungsi tersebut, unsur pelaksana penanggulangan bencana mempunyai tugas untuk mengintegrasikan informasi dan tindakan nyata dalam kondisi prabencana, saat tanggap darurat, dan pascabencana. Ketiga bentuk penanggulangan tersebut, harus berpijak kepada model komunikasi semua saluran, yang memiliki kekuatan besar dalam menjalankan tugas penanganan bencana.

KOMBEN.WP

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

8 Comments on “KOMUNIKASI BENCANA”

  1. Lany Says:

    Saya lagi mencari buku komunikasi bencana untuk bahan skripsi.
    Posisi di jogja dan gramedia maupun toko buku saya cari g ada.
    Bukunya di pasarkan sampai ke jogja tidak pak?

    • ekoharrysusanto Says:

      Ada di Gramedia Yogya. Buku ini justru diterbitkan oleh ASPIKOM Yogya dan Penerbit Litera Yogya.

    • ekoharrysusanto Says:

      Ada di Gramed Yogya………………Malah ini diterbitklan oleh ASPIKOM yogya dan Penerbit Litera Yogya

  2. sophi Says:

    apakah bisa dijual online ? terima kasiih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: