BUNUH DIRI

Bunuh Diri Korban Gempa

Oleh: Eko Harry Susanto

 

Bunuh diri yang dilakukan Mardi, warga Gunung Manuk, Salam, Pathuk, Gunung Kidul, sungguh mengenaskan. Di sela kesedihan ditimpa bencana gempa, muncul kisah pilu yang menggugah nurani (Kompas, 3/6/2006).

Tindakan bunuh diri Mardi tidak sendirian sebab sudah terlampau banyak kisah tentang bunuh diri dari mereka yang merasa terpinggirkan secara sosial maupun ekonomi di Indonesia.

Akar masalah bunuh diri tidak seketika muncul dalam kaitan dengan keputusasaan atau ketidaktegaran individual saat menghadapi berbagai masalah yang kusut tiada terurai. Faktor pendorong munculnya tindakan mengakhiri hidup adalah gejala sosial sebagai perwujudan dari kerentanan moral kolektif yang berimplikasi kepada individual.

Korban kegalauan

Bencana gempa yang mendorong Mardi mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke sumur juga bukan tindakan individual, tetapi fakta sosial keterpurukan masyarakat yang tidak bisa berbuat banyak menghadapi penderitaan. Kasus Mardi adalah anomic suicide, korban kegalauan sosial masyarakat saat mereka tidak tahu apa yang bisa dilakukan ketika harmoni siklus hidup yang mekanistis mengalami guncangan hebat.

Terlepas dari masalah Mardi, sejumlah peristiwa bunuh diri yang terjadi di masyarakat sebenarnya memiliki motivasi berbeda, seperti bunuh diri dalam motif egoistic suicide, terjadi karena rendahnya tingkat integrasi sosial yang memaksa individu mengambil keputusan sendiri.

Jenis bunuh diri lain adalah altruistic suicide yang dilakukan karena kuatnya integrasi sosial sebagaimana tampak dalam kewajiban membela kehormatan terhadap nilai-nilai yang dianut (obligatory altruistic suicide), juga bunuh diri optional altruistic suicide yang berprinsip pada penghormatan dan penghargaan akan diperoleh jika bunuh diri. Selain itu, ada mystical suicide, bunuh diri untuk ritual kepercayaan.

Bunuh diri altruistic, menurut Emile Durkheim, sosiolog kelahiran Perancis, biasa terjadi pada lower society, meski tidak menutup kemungkinan terjadi di lingkungan more recent civilization, kelas sosial lebih tinggi.

Bunuh diri Mardi yang anomic suicide adalah gejala yang menonjol dalam aneka tindakan bunuh diri akibat tertekan beban yang tiada terpecahkan. Karena itu, tanpa menyalahkan pihak mana pun dalam mengatasi bencana di Bantul dan Klaten, termasuk peran pemerintah yang dinilai banyak pihak kurang cekatan, amat birokratis, dan tidak fleksibel. Tindakan Mardi adalah bagian dari kritik terhadap kebijakan penanganan korban gempa, dan kenekatannya seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak yang terkait penanganan bencana untuk segera mengembalikan siklus hidup dengan pendekatan kemanusiaan yang memperkuat daya tahan korban menghadapi musibah

Karena itu, masalah Mardi seharusnya dijadikan upaya mengingatkan elite politik, pemerintah, dan kelompok kepentingan lain yang selalu menjadikan masyarakat desa sebagai sumber eksploitasi sosial budaya maupun ekonomi agar peka terhadap sensitivitas siklus hidup masyarakat desa. Gangguan terhadap keteraturan hidup yang serba bersahaja dengan segala keterbatasannya adalah pemicu menguatnya sikap fatalisme dan tindakan anomi saat tidak berdaya menghadapi perubahan lingkungan sosial ekonomi yang tidak sejalan dengan kesiapan spiritual dan moralitas masyarakat. Mereka tidak menghiraukan jargon-jargon adiluhung masyarakat kolektif seperti keselarasan dan gotong royong.

Potret buram

Mengingat bunuh diri Mardi dan kasus-kasus bunuh diri lain lekat dengan gejala sosial, maka selayaknya pemerintah tidak hanya melihat korban dalam kuantifikasi saja, tetapi juga secara substansial menganggap sebagai salah satu potret buram kebijakan pembangunan yang tidak sejalan dengan kesiapan mental masyarakat. Pemerintah harus tidak bosan mengevaluasi model pembangunan yang empati terhadap masyarakat miskin, bukan sebaliknya membiarkan mereka sebagai tumbal pembangunan seperti dalam model piramida korban pembangunan.

Memang sebuah pernyataan amat klise, tetapi itulah fakta sosial yang terus melembaga dan tidak bisa diatasi kekuasaan negara dari waktu ke waktu.

URL Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/15/opini/2732559.htm

Eko Harry Susanto Pemerhati Masalah Komunikasi dan Politik

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi, Pendidikan, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: