TERORISME

SUARA PEMBARUAN DAILY

Bom dan Bahasa Tubuh

Eko Harry Susanto

Ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jumat pagi 17 Juli 2009, menyita perhatian masyarakat nasional dan internasional. Dalam pernyataan di media, semua pihak mengutuk dan menumpahkan amarahnya kepada teroris yang membunuh orang-orang tidak berdosa.

Dalam hitungan jam setelah ledakan maut itu, bermunculan aneka macam dugaan, analisis, atau sekadar perbincangan yang mengaitkan pelaku dengan gerakan organisasi yang selalu dihubungkan dengan teror bom. Dalam pembicaraan itu, tidak jarang terselip kutukan terhadap eksistensi terorime, dihubungkan dengan penilaian terhadap negara-negara superpower yang juga bertindak di luar batas kewenangannya. Secara kontekstual, pendapat semacam ini tidak layak untuk dikemukakan. Sebab, makna mengutuk terorisme menjadi pudar, yang justru memberikan angin pembenaran terhadap perilaku pengeboman.

Sebenarnya, dalam bingkai komunikasi politik, mencermati diskursus bom dua pekan yang lalu, ada beberapa faktor yang menarik untuk ditelaah. Misalnya, menyangkut keamanan pemilihan presiden. Jelas ini menjadi perhatian utama aparat terkait. Tentu saja, tidak sebatas polisi, tentara, dan birokrat lainnya subordinat kekuasaan negara yang bertanggung jawab terhadap keamanan, juga seluruh masyarakat Indonesia.

Melalui berbagai tindakan pencegahan, tampaknya tugas mengamankan pemilihan presiden berhasil, sebab tidak ada kejadian berarti yang menimbulkan tindakan anarki. Kalaupun di beberapa daerah terjadi keributan, tetapi tidak sampai mengganggu proses pilpres secara keseluruhan. Pilpres yang lancar dan aman membuat berbagai pihak terlena. Dengan kata lain, setelah pemilu berjalan lancar, maka kegiatan yang bersuasana “waspada” pun memudar. Ketika semua subordinat yang bertanggung jawab terhadap keamanan dan kelancaran pemilu “rehat” sejenak, pascapilpres, hal itu dimanfaatkan oleh teroris untuk melakukan bom bunuh diri.

Selain masalah makro yang terikat keamanan nasional, terdapat pula masalah yang menyangkut problem komunikasi petugas keamanan di berbagai ruang publik, yang harus menjadi perhatian agar teror bom tidak terulang lagi. Bagaimanapun, lolosnya para penyebar maut sampai ke hotel yang berpengamanan ketat, tidak terlepas dari petugas keamanan hotel yang menafsirkan simbol-simbol dalam komunikasi manusia secara kurang cermat. Dalam konteks ini, satpam teramat percaya terhadap penampilan fisik seseorang atau bahasa tubuh tamu hotel yang biasanya memang kalangan elite.

Di sini, persoalan bahasa tubuh, simbol, atribut, dan asumsi kelas sosial menjadi begitu dominan. Artinya, kalau sinyal detektor mengisyaratkan ada yang tidak beres, maka satpam harus sigap memeriksa mobil atau orang di dalamnya sampai tuntas dan dinyatakan aman. Tetapi, persoalannya, ada jarak kekuasaan yang tampak jelas antara satpam dan pengunjung hotel. Satpam yang hidupnya pas-pasan dan tamu ‘teroris’ yang berpenampilan perlente, sudah menghapus dulu kecurigaan tentang bahaya bom. Akibatnya, dengan menjawab sekadarnya pertanyaan petugas, bisa saja orang perlente yang bermaksud jelek akan lolos dengan mudah.

Dalam konteks bom di JW Marriott, supervisor keamanan sempat menegur pria misterius bertopi dan berjaket, yang tengah menarik koper beroda di area restoran Sailendra, tempat sarapan. Namun, dengan jawaban singkat bahwa dia sedang mencari bosnya, sang petugas keamanan pun percaya lalu melanjutkan patroli. (Tempo, 20 Juli 2009).

Kelompok Marginal

Sebagai kelompok marginal yang bekerja di gelimang kemewahan hotel, tentu saja sang penjaga keamanan hotel sudah kalah sebelum melakukan tugasnya, sehingga tidak memiliki keberanian memadai untuk mengusut lebih lanjut orang yang dicurigai. Jika diurut ke belakang, sesungguhnya ini sejarah panjang dalam budaya paternalistis, yang tidak pernah memberikan peran memadai kepada kelompok marginal. Selain itu, kecenderungan masyarakat mekanistis tradisional lebih terkesima oleh bahasa tubuh dan simbol-simbol yang melekat pada seseorang, dibandingkan dengan makna substansial yang lebih konkret.

Kejadian di Marriott, selain berbagai sebab-musabab yang masih diteliti, namun tidak bisa diabaikan sebagai dampak dari kesalahan menafsirkan bahasa tubuh. Kekeliruan yang mengunggulkan bahasa tubuh sering membuat kita khawatir. Jika ke bandara, pusat perkantoran, apartemen, mal, atau tempat publik lainnya, ketika memasuki area untuk dideteksi oleh aparat keamanan setempat, sering antara yang diperiksa dan yang memeriksa saling mengirimkan sinyal melalui bahasa tubuh dan atribut yang melekat. Petugas keamanan setempat teramat percaya dan mengandalkan kemampuan membaca bahasa tubuh seseorang, sehingga kalaupun sinyal detektor menandakan ada yang tidak beres, sepertinya tidak akan terperangkap dalam pemeriksaan yang detail.

Untuk mencegah kejadian serupa, selain upaya meningkatkan keamanan, masyarakat hendaknya tidak memberikan komentar yang mengandung makna ganda, yakni mengutuk, tetapi juga memberikan angin kepada teroris. Lebih penting lagi, petugas keamanan tempat-tempat publik, dalam konteks ini satpam, harus membiasakan diri untuk tidak begitu percaya terhadap bahasa tubuh dan simbol fisik seseorang.

Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara Jakarta, pemerhati Masalah Informasi dan Komunikasi Publik

Last modified: 30/7/09

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi, Pendidikan, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: