NASIONALISME/ INDEPENDENCE DAY

KEMERDEKAAN RI KE 65 DI JAKARTA

PERMATA HIJUUPERMATA2

Hari Ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 65,  di Jakarta tampak sepi. Tidak meriah dan dingin, begitulah kira – kira situasi Jakarta pada sepanjang  hari Selasa, tanggal 17 Agustus th.2010.  Bahkan, situasi  tidak bergairah menyambut  kemerdekaan, sudah nampak sepekan sebelumnya, atau mungkin sebulan sebelumnya.

Lazimnya,  di berbagai kawasan, komplek perumahan selalu muncul  macam – macam  acara untuk memeriahkan hari kebebasan. Tetapi, berdasarkan pengamatan dan informasi beberapa  sumber, kegiatan itu tidak ada. Ada kecenderungan menyambut kemerdekaan dengan datar, tanpa semangat.

Apakah karena bulan Ramadhan 1431H ini,  bersamaan dengan perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Bisa jadi ya, jika bermaksud untuk membela diri, dan tetap menunjukkan bahwa bangsa Indonesia, warga Jakarta sesungguhnya masih menggelora dalam  merayakan kemerdekaan.

Namun, alasan bulan puasa, sepertinya juga  tidak sepenuhnya bisa diterima. Kalau memang ada niat untuk menyambut kemerdekaan, bulan puasa bukan sebagai dalih. Karena, kegiatan bisa dilaksanakan seusai  berbuka puasa ataupun setelah ritual peribadatan selesai. Jadi masih banyak jalan untuk  bergembira dan bersyukur  menyambut  HUT RI.  Bukan dengan diam, bungkam dan dingin tanpa  berupaya  menyongsong hari pembebasan  dengan bergairah. Atau yang paling mungkin, kemerdekaan RI dirayakan sebelum memasuki bulan puasa, seyidak – tidaknya sampai tanggal 9 Agustus 2010.

Sejumlah  pihak menyatakan, sepinya perayaan  kemerdekaan karena masyarakat  terhimpit oleh berbagai persoalan,  termasuk harga – harga yang melambung tinggi. Kebutuhan  pokok hampir – hampir tida tercapai oleh sebagian masyarakat yang kurang beruntung. Namun,  harga yang meroket tampaknya disikapi dengan  biasa saja oleh pemerintah,  malahan cenderung mengkambinghitamkan  situasi memasuki bulan puasa,  ulah tengkulak sampai dalih – dalih yang  teoritis, tetapi secara faktual  keadaan di  masyarakat berbeda.

Ketika media mengungkapkan pasokan daging sapi yang  berkurang karena larangan  impor,  Menteri Pertanian, dalam hal ini pejabat di Ditjen  Peternakan pun tidak mau disalahkan, dengan  memaparkan fakta yang luarbiasa hebatnya, berdasarkan hitungan – hitungan  para ahli tetap menyatakan bahwa, soal daging sapi, sudah dipikirkan amat matang. Intinya  pemerintah tidak salah. Bahkan, dengan mantap, bahwa kebijakan  pengurangan impor demi melindungi peternal lokal. Kira – kira yang dikemukakan  : berikan kesempatan peternak lokal menikmati keuntungan. Sebuah  pernyataan yang sangat hebat dan berpihak kepada rakyat.

Namun demikian,  tak lama setelah  pernyataan itu muncul di media,  Hatta Rajasa,  dari pihak pemerintah , menyatakan bahwa impor sapi tetap dilakukan,  pengurangan impor  akan dilakukan secara bertahap. Substansiya, komunikasi politik dalam bentuk pernyataan elite dalam tubuh pemerintah  maupun politisi, teramat langka yang  sinkron- integratif. Karena itu,  ketika beragam pernyataan yang tidak bisa dipegang sebagai rujukan itu samakin menumpuk, maka  masyarakatpun skeptis menghadapi berbagai persoalan. Implikasi lebih jauh adalah bagaiman rakyat menyambut kemerdekaan tanpa greget datar dan berlalu begitu saja. Barangkali ini terlampau jauh, namun jika ada yang berpendapat semacam itu, bukan sesuatu yang tidak berdasar.

Sebagaimana yang terjadi di Jakarta.  Foto A dan B,  kawasan jalan alteri   yang ke arah Slipi, Pejompongan, Gramedia – Pasar Palmerah sejajar rel Kereta Api Kebayoran Lama ke arah Tanah Abang.  Jalan ini,  tanggal 17 Agustus 2010, betapa sepinya,  merah putih sangat langka, kalaupun ada yang memasang  sebatas standar. Sepertinya tidak ada spanduk, baliho, billboard dan media luar ruang lain, yang menyambut HUT RI ke 65. Padahal, ketika pilkada Jakarta, atau saat Pemilu  2009, ssisi kiri kanan jalan, hampir tidak ada celah yang kosdong. Semua terisi spanduk, bendera, billboard dll yang dipasang partai politik untuk menunjukkan kedigdayaan mereka. Bendera  dan sapanduk itu tampak angkuh kendati menyebar janji berpihak kepada rakyat.

Foto C dan  D di kawasan Jl. Letjen. S. Parman- Slipi. Kawasan ini, boleh dikatakan tidak ada hari tanpa umbul – umbul partai politik yang unjuk gigi dan tebar janji, tetapi ketika HUT RI ke 65, tampak kosong melompong. Hanya sejumlah kecil tampak bendera merah putih dan umbul – umbul sederhana,  yang tidak seimbang dengan kemegahan gedung – gedung pencakar langit.

Esensinya, tanggal 17 Agustus 2010 di Jakarta, ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia, betapa  datarnya. Betapa  dinginnya ekspresi  masyarakat, dan sungguh sesuatu yang memprihatinkan, ketika kita terlampau sering mengumandangkan  nilai heroisme menjaga martabat bangsa dari berbagai upaya yang dinilai melecehkan bangsa Indonesia. Kendati demikian, masih ada sejumlah entitas yang dengan semangat tetap menyelenggarakan perayaan HUT Kemerdekaan demi untuk menumbuhkan cinta tanah air.

Jakarta, 17 Agustus 2010

Dr. Eko Harry Susanto

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi, Pendidikan, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: