GOLPUT TETAP BENGKAK

Artikel bulan  Januari 2010

Pemilihan Umum tahun 2009 diikuti oleh 38 partai politik nasional, dan 6 partai lokal di Provinsi Naggroe Aceh Darussalam. Namun diperkirakan
banyaknya jumlah partai politik tersebut, tidak sejalan dengan semangat
masyarakat untuk memberikan suaranya.

Selama ini, setidaknya yang diekspose media, di sela – sela semaraknya
kampanye partai politik yang sedang tebar pesona di berbagai tanah air,
selalu saja muncul klaim bahwa lembaganya memperoleh dukungan luas dari berbagai entitas di masyarakat. Alasannya sederhana, seperti memiliki
hubungan dengan komunitas tertentu, kepengurusannya didominasi oleh
mantan petinggi negara, militer, artis dan sederetan publik figur lain,
yang sesungguhnya terlalu mengambang untuk dipakai sebagai indikator
kemampuan sebuah partai politik untuk mendulang suara.

Namun tanpa mengabaikan aneka kampanye dan gerakan politik yang telah dilakukan dengan bersemangat itu, sesungguhnya memetakan rakyat sebagai konstituen, untuk menghindari membengkaknya golput, jauh lebih penting dibandingkan berandai – andai menggapai konstituen dengan cara yang teamat sederhana. Menurut Dan Nimmo (2000), keputusan untuk memberikan suara dalam pemilihan umum, didasarkan kepada atribut sosial – demografi, perspektif pemberi suara terhadap citra partai, dan isu politik yang ditawarkan.  Dengan kata lain, partai politik harus memahami kemauan rakyat atau lebih banyak mendengarkan tuntutan rakyat dibandingakan dengan mengobral janji dan dengan entengnya memprediksikan jumlah pemilih yang bakal ditangguk pada pemilu 2009, tanpa introspektif terhadap potensi berkembangnya golput.

Mengubah Sikap Golput Berpijak pada kosepsi itu, dalam perspektif gerakan sosial politik, terdapat sejumlah orang yang berpotensi menjadi golput jika diabaikan atau hanya diposisikan sebagai pelengkap dalam pesta demokrasi. Tetapi sebaliknya mereka bisa menjadi basis konstituen potensial apabila
digarap dengan menciptakan situasi yang merakyat (plain folks), senasib
sepenangggungan diantara mereka dan tidak sekadar memberikan iming –
iming (glittering generalities) yang sesungguhnya sulit untuk dinikmati
mereka.

Untuk meminimalisir golput tahun dalam pemilu 2009, partai politik sudah
selayaknya membidik mereka sebagai sumber konstituen untuk memudahkan jalan menuju Senayan maupun Istana. Ditinjau dari karakteristik mereka yang cenderung Golput dalam bingkai apatis dan  skeptisme, paling tidak ada tiga kelompok dalam masyarakat, yaitu komunitas miskin, kelompok misfit dan orang – orang yang bosan dengan keadaan tatakehidupan politik.

Kelompok pertama, warga masyarakat yang secara sosial – ekonomi tidak
beruntung, termasuk dalam “kelompok marginal” yaitu orang – orang yang tidak punya penghasilan tetap, tidak mampu bersaing dalam pasar tenaga kerja kompetitif. Merekapun miskin dengan segala macam indikator akademis maupun eksistensi faktual yang melekat di dalamnya. Pemilihan umum bagi mereka tidak mempunyai dampak signifikan terhadap kehidupan yang lebih baik.

Kedua, kelompok “misfits” yang canggung untuk berdaptasi dengan sekelilingnya, merasa tidak disenangi, tidak mempunyai saluran
akomodasi sosial di masyarakat. Akibatnya mereka apatis dalam urusan
partisipasi politik. Karena itu mereka lebih berasyik masyuk dengan
dunianya atau komunitasnya sendiri tanpa perduli terhadap partisipasi
politik yang diharapkan oleh elite politik dan pemerintah.

Sedangkan kelompok ketiga yang cenderung golput, tetapi bisa diajak
bergabung dalam gerakan politik, jika parpol dapat merangkul dengan baik.
Mereka adalah orang – orang yang bosan dengan keadaan. Mereka terdiri
dari orang – orang yang apolitis atau sebaliknya, justru kelompok
terdidik yang memiliki pengetahuan dan kekritisan memadai dalam menilai
kehidupan bernegara yang beradab. Kelompok ini memiliki pengaruh sosial,
ekonomi maupun politik yang kuat di masyarakat. Merekapun bisa
menciptakan opini publik untuk mengajak masyarakat agar tidak
berpartisipasi dalam kehidupan politik, mengajak massa agar golput dalam
kompetisi politik nasional tahun 2009.

Namun persoalannya, seiring dengan upaya meminimalisir golput, di pihak
lain, banyak indikasi yang membuat masyarakat tetap berpendirian untuk
tidak berpartisipasi dalam pemilihan umum. Berdasarkan kajian  komunikasi politik, kelompok yang secara tidak langsung mempengaruhi apatisme ataupun skeptisme terhadap kehidupan politik semakin besar adalah orang – orang yang mewarnai dinamika politik nasional dengan jalan instan.  Bisa saja mereka termasuk kelompok yang berpengaruh (influential)
di masyarakat, seperti halnya para pemilik modal, mantan elite ataupun
birokrat berpengaruh dalam kekuasaan negara, dan public figure lain yang
populer di masyarakat. Namun dengan kekuasaan sosial dan ekonominya,
mereka cenderung memasuki arena politik praktis yang tidak sejalan
dengan tatanan organisasi kepartaian yang profesional.

Kelompok berpengaruh ini, berharap eksistensinya tetap dikenal masyarakat,
namun sementara pihak khususnya di lingkungan aktivis partai yang telah
bekerja keras untuk menghidupkan partai, seringkali dianalogikan sebagai
“kelompok yang tidak memiliki pijakan perjuangan partai” atau atribut
lainnya yang menggambarkan bahwa mereka bukan loyalis partai, yang
bersedia untuk memberikan dukungan berkesinambungan. Karena itu,
seringkali diasumsikan mengganggu kaderisasi partai politik, yang telah
dibangun dengan susah payah oleh para kader senior. Namun di pihak
lain, bukan rahasia umum bahwa partai politik terperangkap dalam
orientasi gizi, dan terjebak dalam persaingan popularitas publik figur
yang dinilai bisa enggelembungkan suara.

Memang bagi kelompok marginal dan konstituen pada umumnya, eksistensi kelompok berpengaruh ini tidak dihiraukan. Tetapi bagi sejumlah kalangan terdidik ataupun yang kritis terhadap dinamika politik nasional, maka eksistensi kelompok “influential” yang mendominasi partai politik, bisa saja justru menguatkan sikap para pemilih “terdidik” yang sudah
terlanjur skeptis itu, semakin menegaskan pilihan mereka untuk menjadi
golput.

Meskipun demikian, persoalan golput tampaknya tidak pernah dipecahkan
dengan serius oleh elite politik dalam membentuk kepartaian yang
profesional, justru yang sering dilontarkan sebatas retorika dan
himbauan yang kemungkinan tidak dihiraukan oleh masyarakat yang kurang bersemangat dalam menyambut pemilihan umum 2009. Apalagi dalam dinamika politik yang prosedural, keberadaan golput tidak akan mempengaruhi legalitas perolehan suara dalam pemilu. Namun demikian, demi kelangsungan demokratisasi dalam kehidupan bernegara, mudah – mudahan Golput semakin berkurang pada pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden tahun 2009.

JAKARTA, BULAN  JANUARI 2010

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: