KELAS MENENGAH INDONESIA

Tokoh Muda dan Peran Pengusaha


Dr. Eko Harry Susanto

Kesejahteraan yang tidak kunjung membaik, himpitan ekonomi yang semakin menyengsarakan dan kiprah politisi yang tidak berpihak kepada kaum miskin, mengakibatkan skeptisme masyarakat dalam menghadapi pergantian pimpinan di daerah maupundi pusat kekuasaan. Betapa dalam berbagai jajak pendapat, tingkat partisipasi untuk ikut dalam pemilihan umum cenderung kurang dari 70 persen.

Polling yang diselenggarakan oleh lembaga – lembaga riset, media massa dan perguruan tinggi tentang harapan masyarakat menyikapi peran atau kinerja para penguasa selalu terjerembab dalam penilaian masyarakat yang sungguh memprihatinkan. Dengan kata lain, para pimpinan di berbagai lembaga publik dan elite politik , tidak memperoleh kepercayaan yang signifikan dari rakyat, yang tanpa henti menyuarakan tuntutan terpenuhinya kebutuhan pokok yang harganya terjangkau.

Salah satu biang keladi yang sering dikaitkan dengan keterpurukan Negara yang tidak mampu mengatasi problem kesejahteraan rakyat, adalah peran politisi dan para pemimpin yang terperangkap oleh budaya patronage, – yang lebih berorientasi kepada petunjuk atasan, semakin mempertegas ketidak peduliann mereka terhadap hakikat reformasi politik, yang menghendaki pengelolaan kesejahteraan rakyat dalam semua sektor kehidupan lebih demokratis dan terbuka.

Menyikapi keadaan itu, wajar jika muncul tuntutan perlunya tokoh muda tampil dalam percatuan politik , khususnya dalam menyongsong pemilihan umum tahun 2009. Namun persoalnnya, secara faktual terlampau sulit untuk menemukan kata sepakat, tentang siapa figure muda yang paling layak untuk memimpin bangsa Indonesia pada saat ini.

Dalam balutan skeptisme, tampaknya pemimpin muda yang banyak dirindukan oleh rakyat, bisa saja dalam bingkai “satrio piningit ataupun Ratu Adil “ tidak akan muncul dalam waktu dekat. Sebab peta politik nasional masih siwarnai oleh peran para politisi senior , seperti SBY, Megawti Soekarnoputri, M. Jusuf Kalla, Wiranto, Amin Rais dam tokoh senior lain yang sudah malang melintang dalam dinamika politik di Indonesia.

Merujuk pada sejarah politik bangsa Indonesia, menurut Bernard Dahm (dalam Sartono Kartodirdjo, 1971), “mengharapkan pemimpin di Indonesia muncul dari kelas menengah memang sulit, karena kelas menengah di dominasi oleh para carieris, atau para pencari kerja (job hunters) yang menjual diri kepada orang asing untuk memperoleh keuntungan pribadi”. Mereka yang terpelajar dan pintar menjadi kesayangan penjajah karena bisa diperalat untuk segala macam tujuan. Walaupun memiliki kontribusi besar dalam organisasi pemerintahan kolonial, tetapi para carieris tidak akan memperoleh peran yang bisa menunjukkan kepemimpinannya kepada rakyat.

Dalam kondisi lapangan kerja yang terbatas, pendapat itu masih memiliki relevansi kuat dengan kehidupan anak muda sekarang. Kelompok – kelompok terpelajar cenderung menjadi pemburu kerja di pemerintahan, tau bergantung kepada pemilik modal.

Bahkan mereka yang tampak perkasa pada tahun 1998 melengserkan Soeharto, ternyata tidak mampu berperan banyak dalam dinamika politik nasional. Mereka cenderung memilih jalan instan dalam arena politik praktis, sehingga tidak mandiri dan terperangkap dalam kontrol politisi senior.

Intinya, meminjam istilah Prof. Koentjaraningrat, “mentalitas yang suka menerabas, bernafsu untuk mencapai tujuan secepat – cepatnya, tanpa banyak kerelaan berusaha dari permulaan selangkah demi selangkah”. Benar mereka berpolitik melalui gerakan mahasiswa, tetapi memasuki jenjang politik formal idealnya perlu proses panjang. Tetapi, kesalahanpun tidak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada para aktivis muda, sebab partai politikpun menyukai jalan instan untuk menarik tokoh gerakan mahasiswa untuk memoles citra reformis.

Peran Pengusaha

Namun, karut marut masalah keterbelengguan tokoh muda itu, sesungguhnya bisa diminimalisir jika di dukung oleh eksistensi kelas menengah yang kuat dalam suatu negara. Menurut Arief Budiman ( dalam Yosihara Kunio, 1990), “eksistensi kelas menengah yang kuat dan mandiri, bergantung kepada peran pemilik modal yang bebas dari pengaruh kekuasaan”. Konkritnya, kelompok ini mampu memberikan peluang, bekerjasama atau secara sederhana memberikan kesempatan kerja kepada anak muda, yang bebas dari kontrol penguasa. Dengan kata lain, terbentuknya kelas menengah yang mandiri bisa mengendalikan pilar – pilar kekuasaan otoritatif di semua institusi pemerintah, partai politik maupun lembaga – lembaga publik lainnya yang bersentuhan dengan kepentingan rakyat.

Namun persoalannya, selain mentalitas “menerabas” tetap menggejala di lingkungan pemuda, sudahkah Indonesia memiliki kelas menengah yang kuat dan mandiri, ketika berbagai institusi sub ordinat kekuasaan negara masih terus menciptakan belantara kebijakan dalam bisnis dan investasi, yang membuka peluang persekongkolan berbagai pihak dalam birokratisasi bisnis. Alhasil, pemilik modal akan tetap memiliki ketergantungan terhadap sejumlah entitas yang berperan dalam kekuasaan negara.

Substansinya, sampai saat ini, para pengusaha di Indonesia belum bisa menghasilkan kelas menengah mandiri, yang berani secara terang – terangan mendukung gerakan politik anak muda untuk melawan budaya otoriter pada institusi pemerintah, lembaga swasta maupun partai politik. Oleh sebab itu, mengharapkan munculnya tokoh muda yang mampu bergerak progresif dalam mencapai kesejahteraan rakyat hanyalah angan – angan belaka yang masih sulit diwujudkan .

CV.
Dr. Eko Harry Susanto
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara Jakarta. Fasilitator Komunikasi Publik.

Pendidikan:
S1 Ilmu Pemerintahan UGM Yogyakarta, Lulus Tahun 1981
S2 Ilmu Komunikasi UI Jakarta, Lulus Tahun 1996
S3 Ilmu Komunikasi Unpad Bandung, Lulus Januari Tahun 2004

Email : ekohs@centrin.net.id

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi, Pendidikan, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: