DUNIA SELEBRITIS

Mulan Kwok dan Popularitas Presiden


Eko Harry Susanto

Dalam acara Ulang Tahun ke lima Partai Demokrat, grup musik Ratu dipaksa turun panggung, padahal mereka baru membawakan dua lagu dari enam lagu yang direncanakan. Alasan panitia, Mulan Kwok personil Ratu salah menyebutkan nama lengkap presiden, berjoget dekat sekali dengan tempat duduk Presiden SBY, dan Mulan juga menyapa Gus Dur dengan sebutan Saudara Gus Dur.

Di luar persoalan yang menyangkut kesantunan aksi panggung Ratu, kesalahan menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Bambang Susilo Yudhoyono, memang disesalkan oleh berbagai pihak. Ini bisa dimaklumi. Sebab nama adalah simbol bagi seseorang yang melambangkan status dan citarasa budaya. Sedangkan dalam wacana komunikasi antar manusia, nama merupakan unsur penting identitas seseorang dalam masyarakat, sebab interaksi dimulai dengan nama sebelum diikuti oleh atribut – atribut lain. Prinsipnya, nama adalah bagian dari konsep diri yang penting, walaupun Shakespeare, dengan tokoh Julietnya, tidak menghiraukan nama dengan mengatakan, What is in a name. Apalah artinya nama, bunga ros akan tetap harum meski diberi nama lain.

Ada berbagai faktor yang membuat Mulan Kwok tidak mampu menghafal atau salah menyebut nama Presiden Republik Indonesia. Pertama, dalam suasana ingar bingar musik, kegembiraan dan aksi panggung yang dinamis, maka Mulan Kwok sangat berpeluang untuk lupa merangkai nama presiden secara tepat. Ini dibenarkan Dalam wacana psikologi komunikasi, situasi memiliki pengaruh yang kuat terhadap kelancaran dalam penyampaian pesan verbal. Faktor kedua, dalam situasi kebebasan informasi, dimana berita tentang kegiatan Presiden tidak selalu mendominasi headline media massa, maka masyarakat semakin kurang perhatian terhadap nama lengkap Presiden SBY. Apalagi media massa di Indonesia lebih suka menyebut nama presiden kita dengan SBY saja. Bahkan Presiden Yudhoyono pun dalam berbagai kesempatan berbincang – bincang dengan masyarakat, lebih sering mengidentifikasikan diri dengan Pak SBY yang lebih ringkas dan mudah diingat.

Secara politis, masyarakat dan para politisi memang terlalu lama ada di dalam situasi manajemen informasi satu arah yang dikendalikan oleh penguasa, sehingga mereka cenderung memperlakukan simbol kekuasaan kepada masyarakat melalui bahasa verbal baku versi pemerintah. Padahal di pihak lain, komunikasi publik dalam era kebebasan informasi secara signifikan justru menghasilkan masyarakat maupun khalayak apolitis yang kurang peduli terhadap simbol dan pesan verbal pemerintah. Mereka lebih suka untuk mencermati tayangan yang menawarkan mimpi dan budaya instan.

Bagi masyarakat pada umumnya atau para pendukung politik presiden, tidak perlu khawatir bahwa ekspresi Mulan adalah representasi dari ketidakpopuleran Presiden SBY. Sedangkan untuk sejumlah pihak yang menganggap kesalahan Mulan Kwok adalah manusiawi, juga tidak gegabah menilai bahwa Presiden SBY kurang dikenal masyarakat. Sebab asumsi – asumsi tersebut secara faktual tidak signifikan dalam kehidupan politik masyarakat. Memang kesalahan menyebut nama presiden oleh rakyatnya, dalam konteks persaingan popularitas kepemimpinan, bisa saja dieksplorasi sebagai salah satu strategi dalam menyongsong pemilihan umum 2009.

Selain persoalan menyebut nama presiden yang tidak benar, Mulan Kwok juga dianggap tidak menghormati Gus Dur karena menyapa presiden ke lima RI itu dengan Saudara Gus Dur. Personil Ratu tersebut, sepertinya tidak ada maksud untuk melecehkan Gus Dur, tetapi memang tidak memahami apa arti Saudara dalam konteks bahasa birokrasi yang berkonotasi menyetarakan atau bahkan merendahkan. Namun, bukan mustahil, jika Mulan justru terpengaruh oleh retorika para politisi khususnya anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang gemar menyebut nama pejabat dan orang – orang penting lainya di negeri ini dengan sebutan Saudara.

Dalam konteks media exposure di lingkungan masyarakat yang bersahaja, sebenarnya ucapan Mulan Kwok atau siapapun yang berupaya menjadi epigon model komunikasi elite politik di Indonesia, sangat mungkin terperosok dalam bahasa birokrasi yang tidak dipahami substansinya. Sesungguhnya masalah Mulan Kwok adalah salah satu potret dinamika masyarakat dalam situasi kebebasan informasi di Indonesia.

Dr. Eko Harry Susanto
Pemerhati masalah komunikasi dan politik. Fasilitator Komunikasi Publik.

Explore posts in the same categories: Budaya, Pendidikan, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: