NEGARA AGRARIS

Karut Marut Informasi Perberasan

NASI LEMAK MALAYSIA


Dr. Eko Harry Susanto


Produksi beras Indonesia terancam krisis pangan, berbagai sumber memperkirakan siklus dalam pertanian sawah padi terganggu oleh iklim yang kurang bersahat, banjir, kekeringan dan bencana lain.

Namun kondisi itu, disikapi dengan beragam oleh pihak yang bertanggungjawab terhadap masalah perberasan. Umumnya berupaya untuk menjaga kredibilitas institusinya, dan tidak mau dituduh sebagai biang keladi terpuruknya petani. Akibatnya, petani sulit untuk memegang standar kebenaran. Tetapi persoalan bisa saja muncul dari satu institusi muncul banyak silang pendapat yang semakin membingungkan petani.

Menurut Kepala Bulog Mustafa Abubakar, saat ini Bulog berada dalam posisi dilematis, di satu sisi harus mempertahankan kualitas beras untuk rakyat miskin (raskin) agar kualitasnya bagus dengan membeli gabah bermutu baik. Disi lain, dihadapkan pada buruknya kualitas gabah petani. (Kompas, 10 Maret 2007), akibat curah hujan yang sangat tinggi dan angin kencang. Namun menurut Siswono Yudho Husodo, buruknya kualitas gabah, utamanya bukan karena alam, tetapi disebabkan kurangnya pemberian pupuk. (Kompas, 8 Maret 2008). Ini bisa dimaklumi, mengingat harga pupuk semakin mahal dan terperangkap oleh permainan harga para tengkulak.

Terkait dengan kualitas gabah yang buruk, petani mengaku Bulog lebih suka membeli gabah dari tengkulak dan pengusaha penggilingan, yang bisa seenak sendiri menetapkan harga, dengan aneka dalih seperti persentase kadar air dan kadar hampa gabah. Petani hanya menurut dan tidak bisa berbuat banyak mengingat mereka tidak memiliki sarana pengukur untuk mendeteksi kualitas gabah yang memdai. Jika alat yang paling penting untuk memberikan kekuatan petani menghadapi tengkulak ini tidak punya, maka alangkah mubazirnya program dari United Nations Development Program (UNDP) dan Bappenas yang membuat telecenter, dengan memanfaatkan teknologi informasi internet untuk membuka informasi peluang meraih pasar, menyerap informasi teknologi produktif. (Kompas , 26 des 2006). Prinsipnya, memenuhi kebutruhan desa tidak perlu terlalu latah dengan berteknologi informasi, jika sarana yang sangat dibutuhkan malahan tidak tersedia.

Pada kesempatan lainnya Menteri Pertanian, Anton Apriyanto mengatakan seharusnya Bulog membeli hasil panen petani sesuai plafon harga yang ditetapkan, dengan demikian Bulog yang belum melakukan pembelian hasil panen harus dituntut. Namun pejabat Bulog di daerah dengan enteng pula mengemukakan bahwa semua orang bisa menjual gabah ke Bulog, terlebih lagi Bulog memerlukan banyak sekakli beras, kira – kira 650.000 ton setara beras, terbesar dalam enam tahun terakhir. (Kompas, 8 Maret 2008). Tentu saja dalam perspektif komunikasi politik, pengungkapan petani cenderung lebih diakui kebenarannya dibandingkan dengan entitas lain dalam simpul – simpul kekuasaan.

Problem perberasan merupakan suatu siklus yang terus berulang pada musim hujan maupun saat kemarau sekitar bulan Juli – Agustus. Jika menilik pemberitaan tentang beras pada musim kemarau tahun 2007, kitapun menghadapi kesimpang siuran informasi yang sama dengan sekarang, ketika petani menderita kerugian akibat curah hujan dan angin kencang.

Simak berita tentang empat kecamatan penghasil beras di Kabupaten Karawang kekeringan. Ribuan petani pemilik dan penggarap sawah di wilayah Cirebon dan sebagian Indramayu, Jawa Barat dihantui rasa panik. Mereka khawatir mengalami gagal panen karena puluhan ribu hektar sawah dengan tanaman padi kekurangan pasokan air. (Kompas, 6 Agustus 2007). Namun sepertinya pihak Bulog tidak bisa menerima kondisi itu. Dalam kesempatan selanjutnya mengungkapkan tentang stok beras untuk distribusi Bandung dan sekitarnya di gudang dinyatakan aman untuk tujuh bulan ke depan. Kuatnya stok tersebut karena mendapat pasokan dari Kabupaten Indramayu dan Cirebon. (Kompas, 8 Agustus 2007). Padahal sudah jelas bahwa di daerah tersebut terjadi kekeringan.

Sesungguhnya sudah jamak dan klise, bahwa petani miskin memerlukan bantuan modal, pupuk murah, perlindungan produksi dan penyuluhan yang berupa penguatan untuk tidak bersikap fatalistik sebagaimana kebiasaan petani khususnya yang berlahan terbatas. Aspek lain yang sangat dibutuhkan adalah tersedianya transportasi desa yang memadai, sehingga produktivitas bisa lebih mudah untuk mencapai pasar, dan menyubsidi benih dan pola pembagian air yang memadai. Namun semua itu tampaknya hanya menjadi khayalan belaka, sebab semua urusan petani dibawa ke bingkai formal yang justru tidak secara substansial mengatasi persoalan yang dihadapi kebanyakan petani.

Seandainya aspek legal akan tetap diterapkan di lingkungan petani, mengingat pengalaman untuk mengandalkan standar mutu gabah terlampau sulit, maka seharusnya pemerintah menetapkan standar yang lebih fleksibel menyikapi potensi keterpurukan produksi padi. Jangan melakukan kebiasaan, selalu menghitung untung rugi terhadap petani miskin, sebab mereka adalah bangsa sendiri yang memang perlu ditolong. Sebab, menghadapi masyarakat petani yang fatalistik, mustahil digunakan model legal – formal, sedangkan mereka sendiri (petani) justru komunitas yang sengaja menjauhi hal – hal yang terkait dengan regulasi pemerintah.

Hakikatnya, kesengsaraan petani, memang belum bisa lepas dari kebijakan yang tidak konsisten dan membirokrasikan masalah pertanian, dengan terus nerlindung di balik aspek legal formal. Kalaupun ada bencana alam, seandainya kebijakan pertanian dijalankan dengan konsisten, maka petani tidak akan mengalami kesulitan yang teramat parah seperti yang dialami sekarang.

Namun, persoalannya, dalam konteks politik, ketika petani sebagai basis konstituen yang strategis tidak bisa diatur lagi oleh kekuatan politik penguasa, maka kepedulian terhadap petanipun merenggang. Elite politik dan pemerintah yang berkuasa tidak bisa menggunakan petugas penyuluh pertanian sebagai sub – ordinat dari partai politik, bahkan komunitas petanipun sekarang tersegmentasi dalam berbagai partai politik yang rajin menggalang kekuatan petani di pedesaan.

Jakarta, Maret 2008
Dr. Eko Harry Susanto

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: