GERAKAN PEMUDA

Menunggu Tokoh Muda
Dr. Eko Harry Susanto

Merujuk kepada hasil polling tentang popularitas calon presiden yang tidak begitu meyakinkan, karena masih di dominasi oleh tokoh senior seperti SBY dan Megawati, yang hanya memperoleh kisaran kurang dari 30 persen. Dan menyikapi tuntutan berbagai pihak yang menginginkan alternatif calon perseorangan, maka Fajrul rahman, aktivis tahun 1978 berancang – ancang untuk maju sebagai calon presiden dari kelompok independen.

Sedangkan Rizal Malarangrenmg yang justru selama ini dikenal sebagai konsultan pencitraan tokoh, yang melihat bahwa peluang tokoh – tokoh tua senmakin mengecil dan kemuakan masyarakat terhadap pemimpin, yang bisa dilihat dsari besarnya angka golput dalam pilkada maupun [pemilihan presiden rtahun 2004, maka bekas aktivis dari UGM itupun bernmiat sama dengan Fajrul, ikut kompetisi dalam pemilihan prersiden dari scaon indepenfen.

Meanjadi pertanyaan didini, adakah mereka memang berniat untuk tampil sebagai presiden, ataukah sebagai staretegi untuk memperoelh jabatan dalam kekuasan, setelah mereka merasa kuat sdan memiliki massa yang memadai, nmeskipun mereka tidak terpilih sebagai presiden. Secara sederhana dapat dikatakan, pencalonan dua orang itu sekadar untuk memburu jabatam. Sebab, kalaupun merejkk a kalah, tetapi dianggap memiliki massa, maka bisa saja dalam putaran ledua, merejak akan mengekor dibelakang , kandidat unggul yang berkompetiosi dalam putaran keduia. Keadaan ini sudah lazim dilakukan partai politik,. Misalnya partai gurempun, asal mereka mengekor dalam partai politik besar, mereka akan memperoleh jatah sebagai penguasa. Ini tentu tidak memberuiiak penmdidikan poliytikyang baiik bagi masyarakat. Sebabb terkesan sebagai politik hedonisme.

Konsistensi Fajrul dan raizal yang ditunggu adalah, mereka berdua, jika j kalah dalam putaranm pertama, atau sudajh merasa kalah sebelum pemilu dimulai, mereka tidak akan mendukung cvalon unggulan agar memperoleh kursi dalam kekuasaan, bisa saja menteri ataupun jabatan stragegis lain yang dibnerikam oleh seiorang prersiden pemenang.

Namun, melihay pola politik fdi Indonesia sepertinmya, mereka akan sulit untuk meemangangkan dengan tokoh senior yang sudah amakan asdnma gaeranm politik. Tetaoi dimungkinkan pula bahwa mereka juga sulitr untuk dipercauy aasayarakayt, seabab merejka hakikaynya sudaj terpolusui oleh permainan politik domian yang mengusai swelama 32 tahun.

Dalam berbagai diskusi politik, selalu muncul kerinduan terhadap tokoh muda yang diharapkan mampu memimpin Indonesia di masa depan. Tetapi memang tidak mudah mendeskripsikan secara gamblang figur muda saat ini yang paling layak tampil sebagai tokoh nasional. Padahal pasca reformasi politik, bermunculan aktivis muda yang mengusung pemikiran kritis terhadap masalah demokratisasi bernegara.

Kelangkaan tokoh muda hingga sekarang, tidak terlepas dari politik kekuasaan masa lampau yang serba curiga dan mengawasi dengan ketat seluruh kehidupan bernegara. Implikasinya, masyarakat, termasuk anak – anak muda kelas menengah terpelajar, yang diharapkan menjadi pemimpin masa depan, lebih banyak menurut kepada kemauan penguasa, menjadi manusia yang seragam dan tidak memiliki kemandirian.

Jika merujuk pada perspektif sejarah, menurut Bernard Dahm, “mengharapkan pemimpin di Indonesia muncul dari kelas menengah memang sulit, karena kelas menengah di dominasi oleh para carieris, atau para pencari kerja (job hunters) yang menjual diri kepada orang asing untuk memperoleh keuntungan pribadi”. Mereka yang terpelajar dan pintar menjadi kesayangan penjajah karena bisa diperalat untuk segala macam tujuan. Oleh sebab itu, walaupun memiliki kontribusi besar dalam organisasi pemerintahan kolonial, tetapi carieris tidak akan memperoleh peran yang bisa menunjukkan kepemimpinannya kepada rakyat.

Dalam konteks sekarang, ternyata hingga sekarang kaum muda terpelajar cenderung menjadi pemburu kerja di pemerintahan maupun bergantung kepada pemilik modal yang mempekerjakannya. Bahkan tokoh muda yang tahun 1998 tampak perkasa dalam demonstrasi melengserkan Soeharto, juga tidak mampu berperan banyak dalam kehidupan politik. Pasca gerakan yang monumental itu, mereka terjerat dalam urusan bertahan hidup dan memburu pekerjaan, tidak terkecuali di pemerintahan yang notabene mereka kritik terus sebagai kakai tangan rezim Soeharto.

Memang, sebagian demonstran muda itu meneruskan aktif di politik dengan semboyan menggebu – gebu ingin merubah karakteristik partai dari dalam. Tetapi kenyataannya, mereka yang berhasil menjadi elite dalam partai politik, termasuk yang sukses menduduki kursi legislatif di pusat maupun daerah, tetap tidak berdaya menghadapi hegemoni “suara fraksi” tokoh senior yang menafikkan idealisme individual. Akibatnya keterlibatan aktivis muda itu hanyalah sebagai pelengkap sebuah partai politik dan l lebih celaka lagi mereka dijadikan alat oleh elite partai untuk memoles citra agar partai politik dinilai reformis dan berpihak kepada rakyat.

Dengan sejumlah asumsi yang menutup kemungkinan munculnya tokoh muda, bukan berarti tidak ada harapan akan tumbuh pemimpin muda di Indonesia. Sebab dalam konteks demokratisasi bernegara, di masa yang akan datang, masih memungkinkan munculnya tokoh muda yang mandiri. Namun embrio tokoh muda tersebut, tidak terletak pada pundak para aktivis partai politik, LSM maupun akademisi angkatan 98, sebab walaupun mereka ikut dalam ingar bingar demonstrasi melawan rezim otoriter Orde Baru, tetapi mereka masih memiliki trauma terhadap kekuasaan yang menindas, dan mempunyai ketergantungan besar untuk mencari pekerjaan kepada pemerintah maupun pemilik modal yang notabene masih dikuasai oleh lingkaran kekuasaan masa Soeharto.

Karena itu, tokoh muda yang diharapkan muncul, justru melekat pada mereka yang pada saat Soeharto turun tahun 1998, berumur maksimal 11 tahun. Alasannya, mengutip pendapat Jean Piaget, pakar psikologi dari Swis, umur 11 tahun keatas, anak mulai bisa diajak berpikir formal – operasional untuk menyikapi keadaan di sekelilingnya. Dalam konteks ini, mereka sudah mampu memahami pergolakan politik ketika Indonesia terjerembab dalam krisis multi dimensi. Di sisi lain, mereka belum banyak menerima pesan politik, propaganda penguasa dan belum bergelimang dalam polusi jargon – jargon represif yang menakutkan.

Calon – calon pemimpin bangsa tersebut, dalam pemilihan umum tahun 2019, berumur 31 tahun. Sebuah usia yang matang untuk aktif dalam pergerakan politik nasional. Sepanjang kurun waktu dari tahun 1998 sampai tahun 2019, mereka hidup dalam situasi demokratis sehingga bisa berkembang lebih bebas dibandingkan dengan aktivis mahasiswa pada tahun – tahun sebelumnya. Benih – benih pemimpin muda tersebut mulai bisa mengimbangi kekuatan generasi tua yang telah pudar pengaruhnya sejalan dengan kebebasan dan keberagaman informasi politik.

Namun, gambaran tersebut diatas, hanyalah sepenggal pengharapan ideal dari masyarakat yang terus menunggu datangnya pemimpin muda. Anak – anak muda yang kuat dan mandiri, bukan berada di lembaga – lembaga yang menjadi sub ordinat pemerintah, tetapi yang ideal mereka ada di dalam lembaga ataupun perusahaan – perusahaan swasta yang kuat dan mandiri sebagai persemaian demokrasi. Hanya persoalannya, sampai sekarang tidak mudah menemukan pemilik perusahaan yang bebas dari pengaruh kekuasaan negara. Dengan kata lain, sepanjang pemerintah masih memiliki kontrol terhadap kelompok – kelompok swasta, maka berpotensi menghambat munculnya pemimpin muda yang berpihak kepada rakyat. Walhasil mengharapkan munculnya tokoh muda untuk memimpin negeri ini, ibarat menunggu Godot ataupun terperangkap dalam penantian munculnya ratu adil di bumi kita.

CV.
Dr. Eko Harry Susanto
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Pengajar “Teori dan Isu Pembangunan” pada beberapa Program Magister Administrasi Publik

Pendidikan:
S1 Ilmu Pemerintahan UGM Yogyakarta, Lulus Tahun 1981
S2 Ilmu Komunikasi UI Jakarta, Lulus Tahun 1996
S3 Ilmu Komunikasi Unpad Bandung, Lulus Januari Tahun 2004

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi, Pendidikan, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: