POLITIK KEMAKMURAN

Demokrasi : Sebuah Prinsip Kesejahteraan
Dr. Eko Harry Susanto

Wakil Presiden M. Jusuf Kalla kembali mengungkapkan bahwa demokrasi mengakibatkan investasi tidak mau masuk ke Indonesia.

Dalam konteks sama, cenderung pesimis terhadap demokrasi, dikemukakan Budiono, Menteri Koordinator Perekonomian, dalam pidato pengukuhan sebagai gurubesar di Universitas Gadjah Mada, yang mengemukakan, bahwa “Indonesia masih beresiko tinggi untuk keberhasilan demokrasi. Pasalnya, pendapatan per kapita Indonesia diperkirakan sekitar 4000 dollar AS, sedangkan batas kritis bagi kelangsungan demokrasi adalah 6.600 dolar AS”. Dalam arti lain, Indonesia masih sulit untuk menjalankan demokratisasi dalam penyelenggaraan negara.

Ini bentuk kritik dan ketidakpercayaan terhadap demokrasi sebagai pilar untuk mencapai kesejahteraan rakyat, sebab yang tersirat, seolah – olah perlu membatasi demokrasi politik demi untuk stabilitas keamanan yang bisa menarik investasi. Pernyataan tersebut merupakan dogma politik yang berjalan linier dengan sihir pembangunan Orba. Soeharto membungkam politik rakyat melalui gerakan floating mass di seantero pelosok tanah air, yang menganggap rakyat tidak layak untuk berpolitik dan lebih baik mengurus “perut” supaya sejahtera dan harmonisasi. Namun faktanya, membungkam politik rakyat hanya menghasilkan loayalitas semu dan rakyat tidak pernah berhenti untuk memperjuangkan demokratisasi dalam kehidupan bernegara.

Dalam perspektif universal, democracy is based on the freely expressed will of the people to determine own political, economic, social and cultural system and their full participation in all aspects of their lives (Deklarasi Wina). Substansinya, demokrasi adalah keberadaban yang mengunggulkan partisipasi dalam semua bidang kehidupan. Tanpa demokrasi, mungkin saja rakyat bisa kenyang, tapi bungkam tanpa hak politik yang demokratis. Kalaupun ada kesejahteraan, sebatas pemenuhan kebutuhan materiil yang tidak bisa untuk dipakai sebagai ukuran kesejahteraan rakyat telah tercapai.

Sedemikian mulianya esensi demokrasi, sehingga tidak sepantasnya jika elite dalam kekuasaan legislatif, eksekutif dan judikatif mengkambinghitamkan makna kebebasan sebagai biang keladi krisis ekonomi yang tidak kunjung usai.

Esensinya, mengabaikan demokratisasi politik adalah kesalahan besar. Tidak selayaknya menafikan demokratisasi politik dengan dalih rakyat harus makmur secara ekonomis lebih dahulu. Semuanya dilakukan bersama – sama dan seimbang. Oleh sebab itu, bukan kesan yang baik jika para elite dalam pemerintahan, menyalahkan demokratisasi politik. M. Jusuf Kalla juga pernah mengungkapkan, “merasa prihatin dengan pelaksanaan demokrasi sekarang sebagai demokrasi kawat berduri, ada keterpaksaan kita melaksanakannya sehingga gedung pun dipasang kawat berduri”. (Kompas, 22 Mei 2006).

Demokrasi adalah tuntutan rakyat, maka harus dijalankan tanpa keterpaksaan dan bukan menuduh sebagai kambing hitam krisis yang tidak kunjung usai. Selain itu, yang harus dilakukan oleh para elite di negara ini adalah kerja keras membenahi kekuasaan eksekutif, legislatif maupun judikatif yang bisa memacu perkembangan demokrasi politik maupun pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Bukan dengan jalan pintas memimpikan kembalinya gaya pemerintahan yang mengingkari dinamika politik masyarakat dengan mematikan gerakan – gerakan ke arah demokratisasi bernegara.

Memang di saat kesulitan ekonomi yang belum sepenuhnya teratasi dengan baik, model pemerintahan otoritarian paternalistik yang memberi kebebasan mutlak kepada para pemimpin sebagaimana dalam masa Soeharto, seolah – olah obat mujarab yang bisa mengatasi berbagai persoalan bangsa Indonesia. Padahal tidak ada kajian teoritis maupun faktual yang menyatakan bahwa kemakmuran berkelanjutan bisa dicapai dengan jalan tangan besi.

Jakarta, Juni 2006

Dr. Eko Harry Susanto

Explore posts in the same categories: Budaya, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: