NASIONALISME INDONESIA

Memudarnya Nasionalisme
Dr. Eko Harry Susanto, M.Si

Dalam koridor menyegarkan semangat sumpah pemuda, nasionalisme Indonesia kembali dipersoalkan oleh sejumlah kalangan yang prihatin terhadap lunturnya nilai persatuan. Kebhinekaan menghadapi tantangan berat ketika demokratisasi ditafsirkan sebagai kebebasan untuk memenuhi kebutuhan sekelompok orang tanpa menghiraukan pluralisme dalam kehidupan bernegara. .

Karut marut masalah kebangsaan yang tidak menghiraukan nasionalisme, juga tampak dalam berbagai diskusi publik di media elektronik. Masih ada sekelompok masyarakat yang mengidentifikasikan bahwa etniknya sebagai bangsa sendiri, tidak terikat oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menuntut berdaulat sendiri.

Dalihnya, beragam dan bisa saja mengutip pembukaan UUD 1945, yang menyatakan bahwa, kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusaian dan perikeadilan. Alasan yang mengkhawatirkan mengingat nasionalisme dibangun melalui proses panjang jauh sebelum Indonesia merdeka.

Kelangkaan Kebanggaan Nasional

Faktor lain yang melunturkan nasionalisme adalah tidak adanya kebanggaan yang mengikat seluruh masyarakat. Dalam situasi politik pascareformasi yang sering muncul, hanyalah kebanggaan sekelompok orang karena keberhasilannya dalam suatu bidang yang manfaatnya tidak dirasakan oleh rakyat banyak. Alhasil, masyarakat apatis terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya menjunjung tinggi nilai – nilai persatuan.

Pengabaian terhadap nasionalisme yang paling substansial, bisa kita rasakan ketika Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah, yang selalu dibanggakan sebagai keunggulan bangsa Indonesia dimasa lalu, ternyata tidak masuk dalam tujuh keajaiban dunia. Yang sangat disayangkan, dalam menyikapi warisan masa lalu tersebut, masyarakat dan institusi yang bertanggungjawab terhadap warisan purbakala di Indonesia lebih bersikap pasif dan berlindung dibalik pernyataan Unesco yang tidak mengakui tujuh keajaiban dunia versi baru. Namun yang lebih mengkhawatirkan nilai persatuan adalah, bagaimana munculnya pendapat yang mengaitkan secara ideologis, bahwa Borobudur hanya terikat oleh nilai, worlview dan belief sejumlah kelompok tertentu saja. Sungguh memprihatinkan bagi sebuah bangsa yang sedang berlajar tentang demokrasi.

Tujuh Keajaiban Dunia baru yang dipublikasikan bulan Juli 2007, adalah Taj Mahal di India, Reruntuhan Petra di Jordania, Tembok Besar di China, Reuntuhan Machu Picchu di Peru, Koloseum di Roma, Reruntuhan Chichen Itza di Meksiko, dan Patung Kristus di Rio de Janeiro, Brasil. Masyarakat dari negara – negara lokasi keajaiban dunia dengan semangat nasionalisme merayakan keberhasilannya. Di pihak lain betapa kasihan anak – anak sekolah di Indonesia yang belajar tentang tujuh keajaiban dunia, tidak bisa lagi bangga terhadap Borobudur sebagai warisan budaya leluhur.

Menafikan Keanekaragaman

Nasionalisme yang sering disuarakan oleh sejumlah pihak dalam masyarakat, kadang – kadang naif dan bersifat etnosentrisme. Berbagai berita buruk yang menyangkut tentang kerusakan lingkungan, korupsi yang melibatkan para pejabat dan sejumlah berita miring lain tentang Indonesia, selalu dibela habis – habisan, tanpa mau tahu keadaan yang sesungguhnya. Bahkan ujung – ujungnya selalu menuduh tentang konspirasi kekuatan asing untuk menggalang kapitalisme internasional dan sejumlah tuduhan lain yang intinya memelihara sikap “prejudice” terhadap entisa global. Namun yang mengherankan, bagaimana semua memilih bungkam ketika banyak warga negara Indonesia yang “marginal” teraniaya di negeri orang. Kalaupun ada unjuk rasa untuk membela, paling dilakukan oleh sejumlah komunitas yang terbatas.

Dengan kata lain, nasionalisme yang berakar pada kebanggaan terhadap keanekaragaman sosial ekonomi dan politik sepertinya semakin pudar. Lantas apakah menghadapi tantangan globalisasi, justru kita bangsa Indonesia lebih terperangkap dalam politik sektarian yang menafikan nilai kebhinekaan. Jika itu yang menjadi tujuan politik dari para pemimpin negeri ini, maka Indonesia menghadapi tantangan yang paling serius terhadap nilai persatuan u yang terkandung dalam Sumpah Pemuda.

Jakarta, Juli 2007
Dr. Eko Harry Susanto
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Mengajar Beberapa Program Magister Ilmu Komunikasi. Fasiltator Komunikasi Publik

Pendidikan:
S1 Ilmu Pemerintahan UGM Yogyakarta, Tahun 1981
S2 Ilmu Komunikasi UI Jakarta, Tahun 1996
S3 Ilmu Komunikasi Unpad Bandung, Januari Tahun 2004

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Pendidikan, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: