BUDAYA KORUPSI

Mana Hasil Tayangan Wajah Koruptor
Dr. Eko Harry Susanto

Penayangan wajah koruptor di televisi sepertinya belum membuahkan hasil hingga sekarang. Ini menambah keyakinan sejumlah pihak yang sejak semula meragukan bahwa tayangan wajah koruptor di televisi tidak memiliki implikasi langsung terhadap pemberantasan korupsi, sebagai salah satu program andalan pemerintahan SBY-JK.

Di era kebebasan informasi, ketika stasiun televisi memiliki aneka ragam acara yang menarik, maka penayangan wajah koruptor sangat mungkin tidak ditonton oleh masyarakat. Sebab demokrasi mencari dan menyalurkan informasi sepenuhnya ada pada khalayak, sebagaimana pendapat Blumler dan Katz yang menyatakan bahwa, “dalam proses komunikasi massa, pemuasan kebutuhan informasi sepenuhnya terletak pada khalayak”. Dengan demikian, sejalan dengan reformasi politik, rakyat tidak terlalu menghiraukan terhadap pesan yang dikeluarkan bertubi – tubi oleh pemerintah sepanjang tidak menyangkut kepentingan individual maupun kelompoknya.

Maka, dihubungkan dengan fenomena penayangan ciri – ciri fisik koruptor di televisi, sesungguhnya, tidak ada paksaan bagi rakyat sebagai khalayak televisi untuk menonton “acara serius” hajatan pemerintah. Kalaupun ada sejumlah komunitas, khususnya kelompok attentive public yang memiliki perhatian besar terhadap keberadaban bernegara yang bebas dari korupsi, bersemangat mencermati tayangan wajah koruptor di televisi, tetapi mereka umumnya masyarakat kelas menengah yang berpikiran praktis, kalaupun mengetahui keberadaan buron, besar kemungkinan tidak mau memberikan informasi kepada aparat keamanan.

Secara substansial, masyarakat yang sudah jera menunggu kesejahteraan, lebih menyukai tayangan menghibur, meskipun hanya sebatas memberikan mimpi yang tiada terjangkau. Penonton televisi di Indonesia lebih suka berandai – andai menjadi cepat kaya dengan mengikuti segala macam acara tebak menebak yang menyediakan hadiah sampai miliyaran rupiah.

Oleh sebab itu, jika ada pertanyaan, apa makna dari tayangan sepintas tentang empat belas wajah wajah koruptor bagi khalayak televisi. Jawabannya, sangat mungkin tidak ada artinya mengingat khalayak tidak memiliki kepentingan secara langsung terhadap tertangkapnya para koruptor. Dalam paradigma efek media, Raymond A. Bauer, mengungkapkan khalayak adalah robot yang pasif berkepela batu (obstinate audience) yang akan mengikuti pesan bila pesan itu menguntungkan mereka.

Esensinya dalam wacana politik makro, disela ketidakpercayaan rakyat yang menguat terhadap peran elite dalam dalam pemberantasan korupsi, maka harapan Jaksa Agung agar masyarakat melaporkan keberadaan para koruptor sulit untuk terwujud. Secara umum, tayangan wajah koruptor dapat mencapai sasaran apabila elite politik dan pemerintah selalu konsisten tanpa tebang pilih dalam penanganan tindak pidana korupsi

Keteladanan para elite dalam kekuasaan negara adalah faktor utama yang mendorong partisipasi masyarakat untuk memberantas korupsi dengan melaporkan keberadaan koruptor yang menjadi buron pemerintah. Masyarakat akan bersemangat mendukung program anti korupsi, jika benar – benar merasa bahwa uang negara tersebut sesungguhnya untuk kesejahteraan rakyat. Namun, sikap skpetisme dan apatisme terhadap pemberantasan korupsi diekspresikan dengan pertanyaan yang menggugat pemerintah, bahwa, kalaupun uang negara tidak dikorupsi oleh keempat belas orang buron itu, benarkah bisa dinikmati untuk kesejahteraan rakyat. Jangan – jangan ibarat lepas dari mulut buaya masuk kandang singa. Artinya, tetap saja uang negara hanya dinikmati oleh sejumlah orang dalam lingkaran terbatas dan tidak pernah menetes ke masyarakat di akar rumput.

Untuk membuktikan bahwa pemerintah konsisten terhadap pemberantasan korupsi, idealnya bukan hanya hiruk pikuk mengeksplorasi persoalan dengan nuansa penyelewengan uang negara yang dilakukan oleh mereka yang tidak berdaya, tidak mempunyai beking kekuasan, beking politik ataupun yang sudah tidak memiliki massa, dengan tujuan sekadar meningkatkan citra dan seolah ada kepedulian terhadap clean government atau good governance. Sebab yang sangat ditunggu masyarakat adalah keberanian untuk mengusut penyalahgunaan keuangan negara secara sistematis dengan dukungan kekuasaan yang tidak terbatas pada terminologi era kekuasaan. Lebih mengherankan lagi, organ – organ pemerintah yang diandalkan untuk memberantas korupsi, dalam berbagai kesempatan dikusi interaksi di media elektronik pandai bersilat lidah dengan dalih yang berbelit – –elit tetapi sesungguhnya mudah disimpulkan, – tidak memiliki keberanian memadai untuk menghadapi “orang kuat” yang disinyalir korupsi.

Intinya, kesungguhan perilaku elite politik dan kinerja pemerintah dalam menangani kasus- kasus korupsi, jauh lebih signifikan untuk mendorong munculnya partisipasi masyarakat untuk beramai – ramai menunjukkan keberadaan koruptor, bukan terbatas pada keempatbelas orang itu saja, tetapi rakyat akan melaporkan lebih banyak lagi koruptor yang menyelewengkan uang negara selama puluhan tahun secara sistematis dan berlindung dibalik peraturan bermasalah

Tindakan tersebut jauh lebih bisa diharapkan hasilnya dalam memberantas korupsi dibandingkan penayangan wajah koruptor di media massa yang tidak kunjung diperoleh hasilnya. Memang dalam perspektif komunikasi massa, televisi memiliki pengaruh kuat, tetapi sesungguhnya pengaruh itu disaring, diseleksi dan bisa ditolak atau tidak dihiraukan sama sekali karena faktor kepercayaan maupun pengalaman individual yang tidak menguntungkan jika mengikuti kemasan pesan – pesan televisi.

Oleh sebab itu, ketika masyarakat memiliki persepsi negatif terhadap penyelesaian berbagai masalah korupsi, maka dalam konteks aliran pesan, tayangan wajah koruptor di televisi hanya akan berfungsi sekadar pengingatan (recall) bahwa ada koruptor yang sedang dicari aparat penegak hukum, tetapi nilai informasi yang ada didalamnya tidak mampu memberikan stimulus kepada masyarakat untuk berpartisipasi memberantas korupsi.

Jakat, 2007

Dr. Eko Harry Susanto
Dosen fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Fasilitator Komunikasi Publik.

Explore posts in the same categories: Budaya, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: