KEPEMIMPINAN NASIONAL

Kepemimpinan Jalur Akademis
Dr. Eko Harry Susanto

Berdasarkan hasil penelitian dari Indo Barometer dan The Lead Institute tentang kepemimpinan nasional yang dipublikasikan pada tanggal 15 Juni 2007, 29,3 persen responden menilai bahwa jalur kaderisasi ideal berasal dari akademisi dan 20, 4 persen responden mengatakan parpol sebagai sumber kaderisasi ideal.

Harapan dan kepercayaan masyarakat terhadap jalur akademisi dalam kepemimpinan nasional yang lebih besar dibandingkan dengan jalur partai politik, meskipun dilandasi oleh pemikiran menempatkan istitusi pendidikan sebagai entitas yang mulia, tetapi sesungguhnya diwarnai pula oleh nostalgia pemerintahan Orde Baru, dimana para akademisi selalu dilibatkan dalam kegiatan politik oleh partai penguasa. Peran ganda itulah yang tampak di kulit luar dan dicerna oleh rakyat sebagai suatu bentuk ideal yang mampu memberikan kesejahteraan dan ketenteraman walaupun dalam balutan keadilan semu.

Meski demikian, ekspresi responden itu tetap menggembirakan, dan menunjukkan tingkat rasionalitas masyarakat yang masih bisa memberikan masukan berharga dalam mencari model kepemimpinan nasional di Indonesia. Harapan responden mencerminkan bahwa sesungguhnya rakyat tidak skeptis dalam menyikapi dinamika politik yang saat ini dinilai oleh sejumlah pihak sebagai biang keladi dari keterpurukan bangsa yang tidak kunjung usai. . Di sisi lain sikap responden tersebut, hendaknya bisa dipakai untuk mendorong institusi pendidikan sebagai pusat persemaian nilai – nilai kepemimpinan nasional yang berpihak kepada rakyat.

Dalam perspektif pengkategorian partisipasi politik menurut Robert D. Putnam, para akademisi masuk dalam kelompok attentive public, yang berperan dalam mengamati kehidupan politik dan pemerintahan. Namun dengan segala idealisme dan keterbatasannya, mereka tidak terjun langsung dalam kegiatan partai politik praktisi, sehingga pemikirannya tidak bisa berpengaruh langsung terhadap gerakan ataupun dinamika politik yang berkembang dalam masyarakat. Substansinya, para intelektual kampus tidak memiliki “peran politik” sebesar pemilik modal dan birokrat tingkat tinggi yang pendapatnya dipertimbangkan oleh elite partai dalam kekuasaan negara.

Berdasarkan posisi tersebut, meski kelompok akademisi menguasai sejumlah teori ideal untuk menyejahterakan rakyat dengan cara yang lebih adil dan beradab, tetapi para intelektual itu hanyalah pelengkap dalam dinamika politik yang sering tidak sejalan dengan pakem kehidupan bernegara. Bisa saja pendapat “orang kampus“ menjadi populer dan mendominasi media massa, tetapi dengan cepat juga dilupakan oleh publik. Sebab tidak ada implikasi signifikan yang bisa menggerakkan para politisi maupun elite dalam kekuasaan negara untuk bersungguh – sungguh menjalankan ide – ide dari para intelektual perguruan tinggi.

Meski demikian, pernyataan dari para intelektual kampus, sangat mungkin dipakai sebagai acuan oleh para politisi, dengan catatan jika teori – teori yang dikemukakan bisa dipakai untuk menyerang lawan politiknya, atau yang lebih konkrit dan dianggap sebagai kelaziman berpolitik, jika para akademisi memiliki relasi yang kohesif dengan kelompok elite dalam jajaran partai politik. Tesis Peter L. Berger, sosiolog Amerika, menyebutkan bahwa klik – klik antara politisi dan akademisi merupakan suatu kekuatan besar untuk menetapkan kebijakan publik di negara – negara berkembang.

Substansinya, para akademisi yang secara kontinyu terlibat dalam klik politik inilah yang paling berpeluang untuk tampil dalam kepemimpinan nasional. Bukan akademisi tulen yang bekerja, aktif mengembangkan ilmunya di lingkungan institusi pendidikan dan menjadi rujukan masyarakat. Menjadi pertnyaan disini, apakah para akademisi yang terjun ke partai politik sebagai politisi ataupun masuk dalam lingkaran kekuasaan masih bisa diandalkan nilai – nilai akademisnya ketika menyusun berbagai kebijakan publik, mengingat peran yang dilakukan sudah jauh bergeser dari idealisme yang berpihak kepada kebenaran teoritis berubah menjadi kesetiaan terhadap patron politiknya. Eberhard Puntsch (1996) , yang membahas tentang politik dan martabat manusia, menandaskan, tekanan terhadap politisi adalah paksaan untuk bersikap solider pada partai, walaupun perilaku orang partai melukai cara pandang etis dan bertentangan dengan cara pandangnya sendiri. Dalam cengkeraman politik yang kuat, sepertinya mustahil seorang akademisi yang berpolitik bisa melawan hegemoni partai.

Walhasil, harapan masyarakat untuk melihat munculnya kepemimpinan dari jalur akademis, tidak mudah untuk diwujudkan. Kaderisasi melalui intitusi pendidikan tinggi yang mencetak para intelektual, hanyalah sebatas angan – angan dalam kehidupan politik yang dibelenggu oleh nilai – nilai persekongkolan untuk mempertahankan pengaruh dan kekuasaan. Apalagi berbagai regulasi yang menyangkut kepemimpinan, sebagaimana dalam pemilihan kepala daerah, masih memosisikan partai politik sebagai institusi yang paling berhak untuk menetapkan seorang pemimpin. Akibatnya seorang akademisi yang cemerlang sekalipun, jika mau tampil sebagai pemimpin harus tunduk terhadap partai politik, yang nota bene semakin tidak dipercaya oleh masyarakat.

Jakarta, Juni 2007

Referensi :
Eberhard Puntsch .1996. Politik dan Martabat manusia (terjemahan), Sinar Harapan Press Jakarta
Peter L. Berger. 1995. Piramida Korban Manusia, (terjemahan) LP3ES Jakarta

Dr. Eko Harry Susanto
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara Jakarta. Fasilitator Komunikasi Publik.

Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Pendidikan, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: