PUBLIC RELATIONS BIROKRASI

Kelambanan Humas Pemerintah
Dr. Eko Harry Susanto

Juru bicara maupun humas pemerintah memiliki keterbatasan dalam menyampaian informasi kepada publik. Bukan karena kemampuan dalam berkomunikasi yang tidak memadai, tetapi lebih banyak disebabkan oleh eksistensi berbagai peraturan internal dalam organisasi pemerintah yang membatasi tranparansi informasi.

Oleh sebab itu, sangat beralasan, tetapi sekaligus mengagetkan jika dalam pertemuan para humas pemerintah, Wakil Presiden M. Jusuf Kalla mengritik, “hubungan masyarakat pemerintah jangan lagi membuat press release atas peristiwa yang kedaluarsa karena tidak akan lagi dimuat di media”. Pernyataan tersebut, mestinya bisa memotivasi humas pemerintah untuk bertindak lebih cekatan dan transparan dalam menyampaikan berita. Tetapi disisi lain, pemerintah justru merencanakan aneka aturan yang dikhawatirkan mengancam kebebasan mencari dan mengemukakan pendapat.

Dengan demikian, harapan agar humas pemerintah mampu bertindak profesional dalam mengelola informasi secara transparan tidak mudah diwujudkan, sebab mereka cenderung melakukan diskriminasi informasi. Dalam arti, jika informasi itu menunjukkan prestasi pemerintah atau kabar lain yang bisa menaikkan citra, para humas pemerintah tidak canggung dan dengan cepat akan mengungkapkannya di depan publik. Tetapi kalau pesan yang akan dipublikasikan adalah berita buruk, mereka akan mengemas serapih mungkin dengan validasi dari pejabat yang terkait untuk memastikan bahwa berita itu layak untuk disebarkan kepada masyarakat.

Tentu saja proses untuk mematut – matut informasi tersebut memakan waktu dan berimplikasi terhadap pesan yang disampaiakan sudah dianggap kedaluarsa. Padahal dalam perspektif komunikasi massa, justru pesan yang cepat disampaikan dengan transparan sangat disukai oleh khalayak. Namun perilaku tersebut tidak aneh, sebab dalam beberapa pengkajian terhadap komunikasi publik, kegiatan humas pemerintah bukannya menyebarkan informasi, namun cenderung menyembunyikan informasi tertentu.

Namun yang perlu digarisbawahi dari pesan Wapres, menjadi juru bicara atau humas pemerintah, bukan sekadar meneruskan pesan dan kepiawaian memasok berita yang bisa dimuat oleh media, sebab media yang unggul juga tidak bisa dipaksa atau dipengaruhi untuk memuat press release dari para humas pemerintah yang setiap hari jumlahnya sedemikian banyak. Disamping itu, substansi humas sesungguhnya cukup kompleks. Menurut Curril W. Plattes, humas adalah tanggung-jawab dan fungsi – fungsi manajemen untuk : (1) menganalisis kepentingan publik dan memahami sikap publik (2) mengidentifikasikan dan menafsirkan berbagai kebijakan dan program kerja dari organisasinya, serta (3) melaksanakan serangkaian program tindakan yang dapat diterima dan didasarkan pada niat baik. Ringkasnya, humas menjembatani organisasi dan publik untuk menciptakan makna bersama terhadap suatu persoalan.

Meski demikian, juru bicara ataupun humas pemerintah selayaknya tidak kaku dalam menjalankan tugas. Sebab dinamika tuntutan media dan khalayak terhadap informasi yang transparan bergerak cepat dan tidak mungkin bisa diimbangi oleh kebijakan maupun aturan – aturan pemerintah. Mengupas tentang peran jurubicara dan humas pemerintah di Indonesia, ada salah satu contoh menarik yang dapat dipakai sebagai acuan. Dikemukakan oleh Rivers, Jensen dan Peterson (2003 : 147), James Hagerty pejabat humas pemerintahan Dwight Eisenhower adalah orang yang diandalkan di Gedung Putih, Hagerty selalu tanggap terhadap para jurnalis yang meminta berita tentang presiden. Dia akan akan segera memasoknya sedemikian rupa sehingga berita yang muncul selalu menguntungkan bagi pemerintahan Eisenhower. Saat berita sedang sepi dan para wartawan mengais berita dari sana – sini, Hagerty akan segera muncul. Ketika ada peristiwa buruk yang memojokkan gedung putih, Hagerty pula yang akan memastikan hal itu tidak akan tersiar. Kalau sama sekali tidak ada berita , ia akan membuatnya sendiri.

Artinya sebagai humas pemerintah, diperlukan kepiawaian mengelola informasi, mengorganisasikan pesan dan memilah dengan cermat dalam mempublikasikan berita kepada masyarakat. Tetapi dengan segala keterbatasan belenggu aturan, humas dalam birokrasi pemerintahan di Indonesia sulit untuk meniru Hagerty. Meski demikian, bukan berarti harus bertindak kaku dalam memposisikan informasi, sebab reformasi politik tetap menghendaki transparansi dalam penyampaian pesan.

Sesungguhnya, yang memiliki urgensi tinggi untuk diperhatikan oleh para juru biacara maupun humas pemerintah adalah kemampuan menganalisis karakteristik khalayak yang beragam. Dalam realitas kemajemukan dan asumsi perbedaan, maka strategi komunikasi publik yang seyogianya dijalankan oleh humas pemerintah adalah, mengedepankan empati sebagai salah satu sisi paling azasi di lingkungan masyarakat majemuk. Empati menjauhkan kebiasaan mengeluarkan pres release dalam menanggapi suatu peristiwa dari sudut pandang subyektif dengan memposisikan bahwa pemerintah selalu benar, yang salah adalah masyarakat ataupun entitas di luar birokrasi pemerintahan.

Pernyataan sepihak yang mengunggulkan pemerintah, adalah representasi ketiadaan empati dalam komunikasi publik yang berpotensi menciptakan kerenggangan hubungan antara penguasa dengan rakyatnya. Kebiasaan melakukan komunikasi linier dari humas pemerintah ini lebih banyak mengunggulkan paksaan untuk menerima informasi ketimbang mengedepankan transparansi pesan yang dituntut khalayak. Jika pola ini berlanjut, maka peran humas pemerintah tidak lebih dari pelengkap dari manajemen pemerintahan yang tidak dihiraukan oleh masyarakat sebagai sumber informasi yang dipercaya.

Jakarta, Tahun 2007

Dr. Eko Harry Susanto

Explore posts in the same categories: Budaya, Pendidikan, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: