KOMUNIKASI POLITIK DAN PEMERINTAHAN

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/92205

Koran Jakarta, 31 Mei 2012

Regenerasi Nasional I Banyak Tokoh Tanggalkan Nilai-nilai Patriotisme
Rakyat Rindu Pemimpin Propluralisme

JAKARTA – Rakyat menanti munculnya pemimpin yang kaya gagasan dan hanya loyal pada bangsa dan negara. Setelah 14 tahun reformasi berjalan, rakyat sangat merindukan pemimpin yang tegas, berani mengambil sikap demi rakyat, dan menjunjung tinggi kemajemukan di atas kepentingan kelompok.

Publik merindukan pemimpin yang berpihak pada pluralisme. “Kita berharap pemimpin nasional ke depan tidak lagi menghampiri publik dengan modal pencitraan, tapi menawarkan pada publik gagasan cerdas dalam mengelola negara ini. Publik kini merindukan pemimpin yang memiliki integritas dan kompetensi dalam kepemimpinan, pemimpin yang sarat akan gagasan kebangsaan,” tegas Dekan Fakultas Komunikasi Universitas Tarumanegara, EkoHarry Susanto, kepada Koran Jakarta, Rabu (30/5).

Selain itu, pemimpin yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang memiliki kemampuan beradaptasi dalam globalisasi politik dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat dan negara. Oleh karena itu, seorang pemimpin wajib punya orientasi ke depan untuk menjadikan negara memiliki kemandirian, baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun politik serta berani memangkas kebergantungan pada bantuan ataupun utang luar negeri.

“Itulah pemimpin yang dirindukan rakyatnya karena memiliki kepedulian terhadap pelayanan kepada publik yang tinggi. Tidak zamannya lagi sekarang pemimpin yang mengutamakan citra, yang hanya pintar beretorika, tapi miskin tindakan,” tegas Eko.

Di tempat terpisah, Ketua Yayasan Pembina Universitas Pancasila, Siswono Yudo Husodo, menilai sebagian elite politik di Tanah Air tidak menggunakan kekuasaannya sebagaimana yang diharapkan dalam sistem politik modern. Dalam sistem politik modern, kekuasaan seharusnya bertujuan mendatangkan kesejahteraan umum.

“Elite saat ini banyak yang mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Di era reformasi ini, kita sedang menyaksikan kualitas kepemimpinan dalam masyarakat, di semua tingkatan, merosot hebat,” kata Siswono dalam acara Rembuk dan Sarasehan Nasional tentang “Kepemimpinan Nasional Berkarakter Pancasila” di Universitas Pancasila, Jakarta, Selasa.

Kurangnya Integritas
Siswono menilai salah satu kelemahan mencolok bangsa Indonesia saat ini adalah kurangnya integritas banyak individu yang memegang posisi kunci dalam berbagai bidang. Ditambah lagi dengan sikap masyarakat yang permisif terhadap penyimpangan.

Masyarakat pun sering mengabaikan proses dan lebih mementingkan hasil akhir. “Itu merupakan ciri masyarakat instan, cenderung machiavelis, yang demi tujuan tertentu menghalalkan berbagai cara,” ungkap dia.

Siswono menyayangkan semakin banyaknya tokoh masyarakat yang mulai meninggalkan nilai-nilai patriotisme. Moralitas di segala bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, hukum, maupun budaya, merosot. Ketertiban masyarakat juga merosot. Koruptor yang dermawan cenderung lebih dihormati.

Karena itu, Siswono mengingatkan kita untuk meningkatkan kepekaan dan kehalusan rasa serta budi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di segala bidang. “Moral dan etika menjadi sangat penting bagi negara setelah melihat kenyataan banyak terjadinya penyimpangan di banyak institusi negara, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif,” tegas Siswono.

Sementara itu, pengamat politik UGM, Erwan Agus Purwanto, menilai partai politik, hingga saat ini, belum siap melahirkan calon pemimpin berkualitas. Mandeknya sistem pengaderan di partai telah menghambat munculnya tokoh-tokoh potensial, seperti orang muda, untuk berkontestasi maupun memimpin pada 2014.

Secara terpisah, pengamat hukum dari Universitas Andalas Padang, Saldi Isra mengatakan Pemimpin yang tidak memperdulikan rakyatnya dan lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya, harus dihukum dengan cara tidak dipilih kembali dalam pemilihan mendatang.

Rakyat sebagai pemilih harus diberikan pendidikan politik agar tidak lupa dengan kelakuan buruk pemimpin tersebut. Menurut Saldi, harus ada upaya yang intensif untuk selalu mengingatkan, akan kelakuan pemimpin yang lebih mementingkan pribadi dan kelompoknya.

Karena itu pendidikan politik terhadap masyarakat harus selalu diingatkan kalau perlu diintensifkan agar masyarakat tidak lupa. Pendidikan politik dapat diberikan melalui pemberitaan di media massa, pendidikan politik oleh lembaga swadaya masyarakat dan pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi.

Meski hasilnya belum tentu terlihat pada Pemilu 2014, namun seti daknya ada upaya pembelajar an terhadap masyarakat. “Karena pada dasarnya, bukan hanya terhadap pribadi pemimpin itu saja, yang harus diberi pelajaran, namun juga terhadap partai politik, yang mendukung pemimpin berkelakuan buruk itu, juga harus diberi pelajaran,” tukas Saldi. ags/cit/har/nsf/eko/P-4

About these ads
Explore posts in the same categories: Budaya, Ekonomi, Komunikasi, Politik

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: